Catatan kecil

Belajar lewat sharing, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain

Antara kemapanan dan survival

leave a comment »

Masih seputar cerita dari yogya, melihat keluarga kakak yang satu ini (saya punya kakak 7 orang) sungguh memberi warna tersendiri. Memang disebut kekurangan ngga, tapi berlebih juga ngga. Usaha kaosnya yang masih tetap berjalan cukup memberikan peluang untuk karyawan-karyawannya bertahan hidup. Tidak banyak untungnya tapi cukuplah untuk bertahan hidup. Waktu saya tanya ke anak yang tertua, “apakah karyawan yang datang naik motor ini pertanda sekarang mereka lebih makmur dari sebelumnya?”. Jawabnya “nggak juga, mereka tidak punya pilihan karena kalau naik bis biayanya jauh lebih mahal, jadi lebih baik naik motor walau harus nyicil”.

Ada satu hal yang saya pelajari bahwa dengan kondisi yang serba pas itu, semangat hidup menjadi jauh lebih bernyawa. Aktivitas menjadi bagian dari perjuangan. Tidak susah untuk melihat buktinya. Anak-anaknya begitu kompak membantu orang tuanya apa saja. ya belanja ke pasar, merapikan rumah, ngepel, seolah semua sudah paham dengan perannya masing-masing.

Ini yang tidak saya lihat di keluarga yang lebih mapan. Kadang dengan pembantu yang siap mengerjakan apa saja, anak-anak dari keluarga yang mapan jauh lebih rendah daya juangnya. jangankan membantu orang tuanya mencari uang, bahkan untuk menghargai pekerjaan ngepel pun belum tentu dimilikinya. Memang tidak selalu demikian, tapi kecenderungannya seperti itulah.

Tinggal merefleksi diri, dengan kondisi yang lebih dari cukup, saya pikir Aan dan Aina perlu diajarkan hidup bersahaja layaknya orang pas-pasan. Belum tahu resepnya seperti apa, tapi tidak bisa jika mengandalkan kemapanan hidup untuk membesarkan mereka di dunia yang dipenuhi hedonisme…

Written by Mursyid Hasanbasri

July 14, 2008 at 2:15 pm

Leave a Reply