Ternyata… Belajar itu nggak gampang

Banyak pepatah atau kata-kata bijak yang berhubungan dengan belajar. dan Saya percaya bahwa belajar memang sesuatu yang penting dan mendasar. Lewat belajar kita dapat menemukan kearifan hidup, ketenangan bathin, kejernihan pikiran. Banyak cara untuk belajar. Satu yang masuk dalam catatan kecil ini adalah tentang pengalaman. Walau semua orang tahu pepatah yang mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik, tapi ternyata tidak banyak orang yang belajar dari guru terbaik ini.

 

Mengapa ya pengalaman dikatakan guru terbaik? Ada beberapa fakta yang dapat dikemukakan: pertama, belajar dari pengalaman tidak berarti harus mengalami. Kita dapat belajar dari pengalaman orang lain. Kita tidak perlu harus menderita sakit (apalagi flu burung, aids dsb – na’udzubillah) untuk mengetahui bahwa hidup yang tidak sehat akan membawa kita pada penyakit. Kita tidak perlu mengikuti os (orientasi studi ala jahiliah) untuk mengetahui betapa banyak praktek os yang tidak manusiawi. Dan kita tidak perlu apa-apa untuk belajar dari hal yang jelek karena sudah banyak hal jelek terjadi di sekitar kita. Persoalannya mampu tidak kita mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang ada. Yang begini ini kita sebut belajar yang efektif. Kedua, sebagai akibat dari point pertama, belajar dari pengalaman akan hemat biaya dan waktu. Bahasa kerennya efisien. Jangan pernah mau mengulang kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lain. Memang ada yang mengatakan, kesalahan itu kesuksesan yang tertunda. Tidak salah pernyataan ini. Tapi kalau kita tahu sesuatu yang salah dan kita lakukan lagi hanya untuk mengalaminya, maka itu namanya kebodohan.

Bukankah orang dalam hidup mencari yang efisien dan efektif? Nah kalau sudah ada jalan yang efisien dan efektif, tetapi tidak digunakan, apa artinya? Kemungkinannya (dengan mengedepankan husnuzhon) adalah ternyata proses itu tidak mudah. Betapa musibah yang menelan korban datang silih berganti, tetapi korban terus berjatuhan. Betapa korupsi dicaci maki, dikutuk, tetapi korupsi terus terjadi. Apa sih penghalangnya? Kesimpulan sementara saya adalah nafsu berada di balik semua ini. Selama nafsu keduniawian masih mendominasi hidup kita maka belajar itu menjadi sulit. Suka tidak suka, musibah bencana yang terjadi di negeri ini adalah karena tangan-tangan manusia juga. Manusia yang serakah, yang nafsunya tidak pernah merasa cukup. Korupsi terus menggema karena memang mengasyikkan. Korupsi akan menambah pundi untuk memuaskan nafsu.

Kalau hipotesa ini benar, maka salah satu cara agar proses belajar menjadi mudah ya tanggalkanlah nafsu yang tidak bertepi. Mengendalikan nafsu dapat menjadi rem kehidupan. Menyadari bahwa di atas langit masih ada langit akan membuat kita sadar bahwa ternyata kata cukup itu penting. Buat nafsu maka cukup merupakan kata kunci. Bukan karena kata kunci (keyword) menunjukkan kata tersebut penting, tetapi juga betul-betul menjadi kunci yang menutup pintu nafsu untuk terus berkembang.

Alhamdulillah, maha benar Allah yang telah memberikan rizki yang tidak pernah dapat dihitung dan terus memberikan rizki yang tidak pernah dapat dihitung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: