Koordinasi, hal kecil berdampak besar

Enam bulan lalu saya nekat membeli rumah dari developer yang masih kenal dekat dengan saya. Karena dekatnya saya bilang bahwa bisa nggak rumahnya jadi dalam 4 bulan (kira-kira desember 2006). ”Wah sulit”, katanya. Adanya ramadhan dan libur lebaran mengurangi kecepatan mereka menyelesaikan pekerjaan. Akhirnya februari-maret menjadi tawaran yang realistis buat saya.

Selama bulan maret saya selalu memonitor perkembangan penyelesaian rumah. Sepertinya 95% sudah statusnya. Saya sudah berpesan bahwa april saya tetap akan tinggal di rumah baru ini. Tetapi memasuki bulan april, statusnya hampir sama, tidak banyak berubah. Bahkan beberapa masalah baru kelihatan. Ada cukup banyak perubahan dari desain awal, beberapa timbul dari perbedaan persepsi yang tidak dikomunikasikan sejak awal. Alhamdulillah sekarang agaknya sudah mencapai 99,99%.

Apapun itu, saya belajar banyak dari manajemen proyek pembangunan rumah ini. Koordinasi antar pelaku dalam proyek maupun dengan saya sebagai pelanggan tidak berjalan dengan mulus. Ada banyak asumsi yang dibangun tanpa divalidasi. Perubahan informasi dari waktu ke waktu tidak menjadi bahan penting dalam koordinasi. Tampaknya tidak ingin susah jauh lebih menonjol ketimbang kepuasan pelanggan.

Saya yakin masalah koordinasi ini bukan terjadi di situ saja. Banyak kejadian pada rutinitas keseharian kita mengalami hal serupa. Di kampus, jadwal sering bentrok, undangan rapat/pengumuman tidak sampai, deadline terlewat, spesifikasi tidak sesuai dan banyak lagi fenomena serupa. Sepertinya memang kita perlu belajar pada diri kita sendiri. Ya tubuh kita sendiri. Ada sekian juta elemen yang senantiasa berkoordinasi sehingga kita bisa hidup dengan nyaman.

Satu hal yang saya amati, arus informasi dalam hal ini sangat vital. Beberapa tahun ke belakang boleh lah kita beralasan teknologi belum mendukung sehingga banyak hal terjadi tanpa koordinasi. Saat ini akan sangat sulit mengelak dari fakta kita semua sudah terhubung satu sama lain lewat kabel ataupun tidak. Mulai dari email, mailing-list, chat, sms, telepon seluler bahkan conference pun dapat dilakukan untuk berkoordinasi. Jadi apalagi yang membuat kerja kita tidak smart?

2 Responses to Koordinasi, hal kecil berdampak besar

  1. rinaldimunir says:

    Beli rumah di mana, Mursyid?

  2. mursyid says:

    di cigadung bang. alhamdulillah sudah 2 bulan ini tinggal di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: