Bekerja dengan Berpikir

Sering saya amati bahkan alami sendiri bahwa ternyata kita tidak jarang bekerja tanpa berpikir. Kita hanya menjalankan apa yang diinginkan oleh orang lain atau mungkin juga diri kita sendiri. Apakah orang lain itu orang tua kita, anak kita, teman, atasan atau orang yang tidak dikenal sekalipun. Kita seolah memasuki daerah di luar kesadaran kita walaupun secara fisik kita sadar melakukan apa yang sedang kita lakukan.

Mengapa hal ini perlu menjadi perhatian? Tentu saja karena mengikutsertakan kesadaran merupakan hal yang paling mendasar dalam hidup. Tengoklah orang-orang yang sudah tidak memiliki kesadaran lagi (maaf: gila), apa yang dilakukannya menjadi sesuatu yang tidak berarti bagi orang yang sadar. Hal yang sama juga berlaku pada saat kita melakukan sesuatu tanpa sadar. Mungkin itulah salah satu sebabnya mengapa kita lebih mudah  melihat kesalahan orang lain daripada melihat kesalahan sendiri. Allah swt mengajarkan kepada kita bahwa jangan melaksanakan shalat sampai kita sadar dengan apa yang kita ucapkan. Jadi tanpa kesadaran pada hakikatnya aktivitas kita itu tidak bernilai.

Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari di luar konteks ibadah maghdah? sama saja. Saya mengamati (tentu saja pada saat saya sadar :D) cukup banyak orang yang tidak pernah memikirkan bagaimana caranya bekerja dengan lebih baik (better, faster, cheaper). Dia hanya memikirkan bagaimana pekerjaannya itu selesai tanpa peduli dengan lamanya waktu, kualitas pekerjaannya atau biaya yang dikeluarkan. Nah di sini kesadaran akan memberikan nilai yang luar biasa. Kalau setiap tindakan kita didasari oleh kesadaran untuk bekerja lebih baik, kita akan selalu menyertakan pikiran kita bagaimana mewujudkan hal tersebut. Dengan demikian, maka saat bekerja kita akan mendapatkan sinergi yang besar antara kesadaran dan kekuatan pikiran.

Contoh: saya selalu mendapatkan surat tagihan handphone saya dan istri secara terpisah. kadang berselisih 1 atau 2 hari. di lain waktu saya juga mendapatkan tagihan kartu kredit, pemberitahuan pembayaran asuransi dsb. Ini semua memutuhkan kurir untuk mengantarkan surat-surat tersebut ke meja saya. Andai orang berpikir bahwa di waktu yang hampir bersamaan, ada sejumlah surat buat saya, mengapa tidak ditunggu saja sampai semua terkumpul baru diserahkan? hemat waktu, tenaga dan akhirnya mungkin biaya. Memang untuk sampai ke sana ada upaya tambahan misalnya mendata frekuensi pengantaran ke seseorang, darimana saja asal suratnya, kapan surat tsb harus diterima dsb. Tapi di situlah letak point kesadaran tadi. Banyak lagi contoh yang lain mengenai malasnya kita berpikir sehingga kesadaran kita hilang dan akhirnya melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa ruh.

Jadi sadarlah sebelum  melakukan sesuatu karena itu yang akan menentukan kualitas pekerjaan kita. Amin.

2 Responses to Bekerja dengan Berpikir

  1. Aurik says:

    desain blog-nya simpel menarik dan bikin ‘adem’🙂.. tulisannya juga bagus, nggak nyangka ada bakat nulis juga rupanya..
    salam,
    -aurik-

  2. mursyid says:

    Wah desainnya nyomot aja kok rik. soal tulisan, ini lagi belajar abis belum ada lagi tulisan ilmiahnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: