Menyenangi (beban) pekerjaan

Dua hari yang lalu seorang senior mem-forwardkan email yang menceritakan kembali pengalaman James Gwee dengan seorang (hanya) pemeriksa pintu kamar di hotel berbintang. Sebuah pelajaran yang sangat berharga di saat kita selalu mengukur kesuksesan dengan harta, pangkat, dan sebagainya yang bersifat materiil. Di akhir email itu tertulis pertanyaan retoris mengenai apa makna pekerjaan kita. Ya, pekerjaan yang kita lakukan setiap hari.

Di lain kesempatan ada juga email yang bercerita bahwa kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita senangi. Untuk itu saran bijaknya mengatakan senangilah apa yang anda dapatkan. Kalau tidak salah kata bijak ini pernah disampaikan ulama Hasan Al Basri dalam sesi-sesi dakwahnya.

Kalau direnungi secara seksama, maka dua nasihat yang berseliweran di dunia maya ini benar-benar luar biasa. Betapa tidak, kenikmatan dunia berada di depan mata dan tidak sedikit (sebenarnya banyak sekali) yang sudah benar-benar kita nikmati. Tapi masih saja kita (baca: saya) mengeluh bahwa pekerjaan kita begini lah, begitu lah. Seolah banyak negatifnya daripada positifnya. Seolah kita ingin mengatakan pada dunia, saya ingin melakukan banyak hal tapi belum bisa karena pekerjaan yang saya terima ini terlalu banyak, terlalu berat dsb.

Betul bahwa beban yang dipikul harus seimbang dengan kemampuan kita. Tapi dua nasihat di atas benar-benar membuat saya merasa perlu untuk mengevaluasi lagi statement-statement saya tentang pekerjaan yang saya terima. Jangan-jangan, ungkapan beban yang berat yang kita terima hanyalah merupakan alasan untuk mengatakan kita sebenarnya tidak mampu melaksanakan amanah yang kita pegang. Dan benarlah apa kata para motivator, be positive.

Tidak ada cara lain untuk menyikapi beban hidup kecuali dengan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Jika memang ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ya tidak perlu kecewa karena itulah kemampuan kita. Pointnya kita sudah berusaha. Hasil serahkan pada Yang Maha Kuasa.

Di balik kesulitan ada kemudahan. Di balik ancaman ada peluang. Di balik masalah ada tantangan. Apapun pekerjaannya, kalau sudah dipercayakan kepada kita, kerjakanlah dengan sebaik-baiknya. Laa hawla walaa quwwata illa billah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: