Di antara 2 dunia

Walaupun tidak sering, ada saja hinggap perasaan gundah berada di lingkungan saya saat ini. Ada sesuatu yang belum terhubung antara fakta dan harapan. Saya katakan belum karena saya masih berharap bahwa suatu saat keduanya dapat bersanding entah bagaimana caranya.

Bekerja di ruangan yang nyaman (alhamdulillah), gaji yang alhamdulillah lebih dari cukup, fasilitas yang untuk ukuran indonesia masih luar biasa, tidak memberikan peluang untuk mengatakan hidup ini berat. Dengan visi yang mendunia hidup tidak dapat lagi seperti biasa, harus luar biasa. Mahasiswanya pun tidak kalah “hebat”. Pergaulan kelihatannya modern, notebook dijinjing seperti layaknya orang membawa block note pada umumnya, dan berbagai ciri-ciri orang berada lah. Dengan situasi seperti ini, jika kesadaran tidak sering digoyang, waAllahua’lam, bukan tidak mungkin kita akan larut dengan gaya hidup yang sama.

Namun, di dunia yang lain, yang berada tak jauh dari dunia yang digeluti, tidak ada yang mengatakan hidup itu mudah. Banyak orang masih makan nasi hanya dengan garam (tak kuasa mengingat yang makan nasi aking atau yang tidak makan sama sekali), banyak orang bekerja mengais rezeki di tempat pembuangan sampah, banyak anak-anak tidak sekolah karena ternyata untuk pendidikan dasar yang seharusnya dinikmati “gratis” membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dari spp mahasiswa. Astaghfirullah. Ada apa ini?

Aan, sekarang berumur 4 tahun lebih. Sudah saatnya masuk sekolah, TK A menurut standar yang berlaku saat ini. Sebagai ayah, ingin sekali anaknya lebih baik dari orang tuanya. Jadi anak-anak perlu diberi pendidikan yang terbaik. Begitulah kira-kira yang ada di benak saya suatu waktu. Sebenarnya sudah dimulai 1-2 tahun yang lalu, kami sudah mencari sekolah macam apa yang baik untuk Aan nanti. Hasilnya tentu saja sesuai dengan hukum dunia, yang bagus ya mahal. Angka 10 juta bukan lagi angka haram untuk pendidikan anak usia dini, wow…

Tapi… alhamdulillah, kegundahan yang saya singgung di awal masih tersisa di satu bagian hati. Apa layak menyekolahkan anak di sekolah yang mahal sementara masih banyak, dan jauh lebih banyak, anak yang untuk membayar 10 ribu pun masih tak mampu. Tidak bagus jika kegundahan ini diabaikan. Tak bijak jika anak dibiarkan dalam kondisi yang serba cukup. Walaupun berat, tapi mantap aan belajar di rumah sajalah. Biarlah dana yang tersedia untuk membayari sekolah2 top tadi digunakan bersama dengan anak lain. Kalaupun tetap dibelikan mainan edukatif, setidaknya tidak digunakan sendiri. Ada hak orang lain untuk mengecapnya juga.

Tidak mudah juga mendekatkan dua dunia yang saling bertolak-belakang. Dan tampaknya memang begitulah desain Yang Maha Segalanya. Pastilah mudah bagiNya untuk membuat semua orang hidup mewah. Pastilah semudah membuat semuanya juga menjadi melarat. Tapi faktanya seperti yang kita lihat. Ini artinya desainnya memang demikianlah adanya. Tinggal kita pandai-pandai mengambil hikmah dari realitas ini, untuk tidak memisahkan keduanya secara mutlak, untuk terus menghubungkan keduanya lewat amal-amal dunia akhirat. Bukankah Nabi Muhammad saw adalah orang yang paling dekat dengan orang miskin…

4 Responses to Di antara 2 dunia

  1. rinaldimunir says:

    Mursyid, kata teman saya dosen TI yang sempat ngajar di SBM, mhs SBM cenderung kurang beretika, misalnya mhs perempuan duduk-duduk sambil merokok, pakai pakaian “you can see”. Kalau di prodi saya melihat pemandangan kayak gitu, udah saya suruh pulang si mhs. Tampaknya image SBM sebagai tempat anak-anak orang kaya tetapi mengabaikan etika perlu kamu benahi. Tantanganmu nih sebagai alumni Salman untuk mendidik mhs mu sebagai calon pebisnis yang hebat tetapi juga punya budi pekerti yang santun.

  2. mursyid says:

    Wah terus terang tanggung jawab ini luar biasa berat bang. Pertama kalau kita berhadapan dengan siswa pun sudah berat (tidak ada jaminan seorang guru dapat mengubah perilaku anak didiknya). Apalagi mahasiswa yang mengaku sudah dewasa, berhak mengambil jalan hidupnya sendiri. Dan yang lebih berat lagi, tidak semua orang di sini memiliki prinsip, etika atau nilai yang sama. Jangan kaget bang ketika bertemu dengan orang yang menganggap wanita perokok biasa aja, atau bahkan wanita bercelana pendek. Hmmm doakan sajalah… karena Allahlah yang membolak-balikkan hati hambanya.

  3. rinaldimunir says:

    Syid, meski mhs berhak megambil jalan hidup sendiri, punya etika sendiri, dll, mereka harus berhadapan dengan etika yang berlaku di kampus2 pendidikan. Karena menurut ukuran norma di ITB hal itu tidak pantas, maka tugasmulah untuk menasehati. Saya pikir kalau maksud kita baik, disampaikan dengan cara baik, mhs akan merespon dan menghormati masukan dari kita.

  4. mursyid says:

    Ya, setuju bang. Mudah2an saya diberi kekuatan untuk menyuarakan hal-hal yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: