Belajar lewat multidisiplin

Alhamdulillah kemarin diberi kesempatan untuk menghadiri workshop persiapan mata kuliah semester I 07/08. Seperti yang dijadwalkan, hadir dosen yang memberikan mata kuliah di tingkat 1 untuk mata kuliah matematika untuk bisnis dan manajemen, critical reading and writing, sports, natural science, study of human society. Yang jelas semua kuliah ini benar-benar kuliah dasar yang mesti diberikan di awal masa kuliah mahasiswa.

Satu per satu rencana perkuliahan disampaikan. Ada beberapa hal yang didiskusikan menggugah kesadaran saya. Di antaranya bagaimana kita selaku dosen memberikan nilai kepada mahasiswa. Apakah salah misalnya jika ada kuliah yang semua mahasiswanya mendapat A? bagaimana kita mengukur pencapaian mahasiswa dalam suatu kelas? Sah tidak jika dalam satu kelas kita menggunakan standar yang berbeda untuk menilai? Apa arti A, B, C atau angka 75, 65 dsb?

Walaupun isunya bukan isu baru, tetapi pertanyaan-pertanyaan ini tetap valid untuk selalu mengingatkan kita untuk tidak menjadi mekanistik. “Kita bukan manusia statistik” pak Syarmidi mengingatkan forum pada niat awal pendirian SBM. Walaupun Pak Koko Martono memberi catatan bahwa pada akhirnya statistik memang paling banyak digunakan untuk mengkuantifikasi berbagai aspek dalam penilaian, beliau sepakat bahwa kesadaran ini penting. Dalam pelajaran olah raga misalnya, jika alat ukurnya adalah kebugaran dan itu dites dengan lari, kecil sekali peluang bagi mahasiswa bertubuh gemuk akan mendapat nilai A. begitulah jika kita akan menggunakan statistik. Bisa tidak mereka diukur dari penurunan berat badannya selama kuliah? dan mungkin tidak jika yang mengukur bukan dosen olah raga tadi, tetapi dokter?

Diskusi semacam ini sangat mencerahkan karena saya baru mengikutinya. Bagi yang hadir, banyak hal yang disampaikan saat itu merupakan perulangan masukan pada tahun-tahun sebelumnya. Cuma tampaknya baterenya mulai habis, konsistensi mulai berkurang. Oleh karena itu pemikiran kritis untuk selalu mengingatkan kembali ruh yang ingin dibangun sejak awal perlu dipertahankan. Salut buat prodi yang terus menjaga kebiasaan ini.

Ada tantangan yang patut diperhatikan. Salah seorang peserta mengusulkan bagaimana kalau sudah mulai memanggil eksternal reviewer baik dari ITB maupun luar ITB untuk mengevaluasi sisi pengenalan social skill pada mahasiswa. Boleh jadi model ini pun layak dipertimbangkan untuk diterapkan pada mahasiswa ITB secara keseluruhan.

Mungkin di sinilah SBM perlu memulai studi tentang crossculture management.?!#@$!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: