Rumahku Surgaku

Baitii Jannatii, begitulah kalau tidak salah ungkapan Rasulullah saw. Saya bukan ahli hadits untuk mengomentari ungkapan itu. Tetapi sampai saat ini ungkapan ini benar-benar bermakna bagi saya. Alhamdulillah karena saya masih diberikan Allah swt keluarga yang rukun. Baik waktu saya belum menikah maupun setelah menikah. Kedua rumah yang saya diami tersebut benar-benar menentramkan bak surga seperti ungkapan di muka.

Banyak orang merasakan rumah tak lebih sebagai tempat singgah. Tak berbeda dengan kantor, rumah orang tua atau bahkan masjid. Tidak ada kerinduan untuk kembali ke rumah. Beberapa orang mengalami hal seperti ini boleh jadi sejak mahasiswa. Alih-alih ingin selalu pulang, mereka kadang merasa nyaman kalau berada di luar rumah. Ada juga yang lebih senang di kantor daripada di rumah.

Memang, rumah adalah benda mati yang tidak memiliki ruh. Tapi tidak sedikit orang mempercayai bahwa rumah mengandung “ruh” lain. Entah apa namanya. Rumah yang ditinggali akan terasa berbeda dengan rumah kosong biarpun kemewahan menghiasinya. Oleh karena itu saya meyakini “ruh” sebuah rumah akan sangat dipengaruhi oleh ruh orang yang mendiaminya. Jika diisi oleh manusia dengan ruh yang damai, insya Allah rumah pun menjadi damai. Tidak mustahil kedamaian itu tampak dari luar tanpa harus merasakan kedamaian di dalamnya.

Jika sudah penat bekerja, panas kepala karena berbagai masalah, saat kembali ke rumah setidaknya semua menjadi mengendur. Relaksasi terjadi begitu saja. Senyum dan panggilan anak menyambut orang yang disayanginya begitu menyejukkan. Seperti hembusan angin segar dari AC yang menyegarkan ruangan, panasnya kepala dan hati pun dapat dijinakkan senyum dan tawa riang anak-anak. Ditambah kasih sayang dari pasangan, jelas rumah merupakan satu-satunya tempat yang paling menyejukkan, menentramkan. Begitu luar biasa dampaknya, tak salah jika rumah menjadi surga di dunia.

Kalau kita bertanya buat apa kita bekerja? tentulah yang pertama untuk memenuhi hak Allah swt atas penghambaan diri kita. Tidak mudah untuk selalu mengaitkan hak Allah ini dalam keseharian kita. Jika ditelusuri alasan berikutnya mungkin keluargalah tujuan dari aktivitas kita sehari-hari. Apakah itu orang tua, istri/suami, anak atau cucu. Pasti kita bekerja untuk orang-orang terdekat kita itu. Maka wajar jika rumah yang menaungi kita tadi melahirkan kerinduan. Kerinduan untuk selalu pulang…

So what? pada akhirnya jika kita melihat ini sebagai sesuatu yang esensial, menjadi tidak wajar jika hal ini diabaikan. Bagi kita yang saat ini diamanahi jabatan yang membawahi banyak orang, banyak baiknya untuk memperhatikan hal ini. Bolehlah kita ingin mengejar target perusahaan yang memaksa karyawan berlembur-lembur. Tapi ingatlah kerinduan akan rumah sebagai surga dunia tak dapat digantikan begitu saja dengan kegelimangan harta, gaji yang kita kejar. Senyum anak, istri tak sepenuhnya dapat diganti dengan uang. Bagi kita yang baru bisa jadi bawahan, ingatlah bahwa senyum anak-istri akan tulus jika apa yang kita bawa ke rumah merupakan sesuatu yang halal. Tidak perlu kita pikirkan untuk melakukan hal yang haram demi menyenangkan mereka. Bukan harta yang banyak yang membuat rumah menjadi surga, tapi ruh-ruh orang di dalamnyalah yang menjadikan rumah menjadi surga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: