trust atau …

Beberapa waktu belakangan ini saya mendengar, melihat dan terlibat dengan kata yang satu ini. Dalam pengembangan institusi saya, salah satu value yang ingin dijadikan acuan adalah trust. Dalam kesempatan lain beberapa teman menceritakan betapa trust ini sulit dilaksanakan. Atau kita lihat bagaimana suatu bangsa dengan mudahnya melanggar janji yang telah disepakati. Lantas di mana trust?

Seperti halnya value lain, maka trust juga mudah disampaikan lewat lisan yang tak bertulang ini. Namun jangan tanya soal prakteknya. Banyak penyimpangan yang terjadi boleh jadi karena tidak ada trust atau adanya pelanggaran pada trust. “percayakanlah pada saya”, begitu kira2 janji seorang (calon) pemimpin pada bawahan atau pendukungnya. Bagi orang atau masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan hampir tidak punya pilihan selain meng-iyakan. Tinggal waktu saja yang membuktikan kebenaran janjinya.

Sebenarnya trust tidak perlu harus dinyatakan dengan untaian kata-kata indah. Dari sikap keseharian kita orang akan tau apakah kita menaruh kepercayaan pada orang atau tidak. Kalau seorang pimpinan tampak “ngotot” membela hak-hak bawahannya, orang tersebut tidak perlu berkata lagi bahwa dia dapat dipercaya. Bawahannya akan serta merta meyakini keberpihakan atasannya. Jadi kalau kita sering mengumbar janji atau kata-kata yang sifatnya mempengaruhi orang agar percaya pada kita, percayalah ada saatnya kita tidak pernah lagi didengar orang.

Soal trust, biasanya akan melibatkan dua pihak. Yang satu memberikan kepercayaan, yang lain menerima kepercayaan itu. Oleh karenanya biasa digunakan kata saling percaya. Dalam konteks ini maka kata amanah cukup sepadan untuk mendampinginya. Setiap kita berinteraksi dengan orang lain dan masing-masing sudah mengetahui perannya (fungsinya) maka otomatis amanah sudah dipikul. Tidak diperlukan lagi kontrak hitam di atas putih kecuali untuk formalitas belaka. Jika demikian, maka makna trust sudah menempel pada kesungguhan kita menjaga amanah. Semua menjadi di bawah kendali diri kita.

Orang yang tidak mampu menjaga amanah, maka sulit berinteraksi dengan orang lain berdasarkan trust. Bagaimana mendeteksi keamanahan seseorang, lihatlah bagaimana dia menjalankan apa yang sudah dibebankan kepadanya. Jadi simple sekali menilai apakah kita bisa mempercayai seseorang atau tidak. Kalaupun banyak orang sekarang tampak seperti sedang mempercayakan sebuah harapan yang besar pada seseorang, bisa jadi karena memang tidak ada pilihan lain, bukan karena sebuah trust.

One Response to trust atau …

  1. Nurhajati says:

    Setuju sekaliiii. Soalnya trust ini sebenarnya mencakup beberapa hal: keterbukaan dalam menerima ide atau berbagi ide, integritas dalam arti kata jujur dan tulus, konsistensi menjadi penting karena hal ini juga dijadikan dasar dalam membangun kepercayaan, kompetens (pengetahuan dan kemampuan) dan kesetiaan. Nah memang susah kan, sharing…
    Mau tidak sih kita menerima ide orang atau memberi ide kita ke orang…
    Mau enggak kita secara tulus dan jujur berinterkasi
    Apakah kita bisa konsisten?
    Dan katanya nih…tanpa integritas semuanya tidak bermana. Nah lho, mana kita suka berbasa basi kan? Gimana mau jujur, kalau di mulut dan di hati beda. Mari kita belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: