Kemiskinan dan Korupsi

Dalam sebuah diskusi di kampus, seorang senior sempat menelorkan kritikan yang sedikit beda sehingga memang perlu mendapat perhatian khusus. Beliau saat itu mengemukakan bagaimana peran kampus dalam memerangi kemiskinan dan korupsi. Sebenarnya pertanyaan ini wajar dan sah untuk ditanyakan pada setiap insan di bumi Indonesia ini. Tetapi saya jarang mendengar isu ini dibicarakan secara khusus di kampus tercinta ini. apalagi sampai langkah-langkah kongkrit yang akan dilaksanakan untuk mengurangi kemiskinan dan korupsi.

Perguruan tinggi sudah seharusnya bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Terlebih ITB bukan milik bandung atau jawa barat saja, tetapi juga Indonesia. Wajar jika ada tuntutan peran ITB dalam memerangi masalah nasional. Walaupun seperti namanya yang bergerak di bidang sains, teknologi dan seni tidak berarti ITB dapat lepas dari tanggung jawab nasional tadi. Itulah juga mungkin sebab mengapa diperlukan matra manajemen di ITB disamping adanya kebutuhan akan pengembangan ilmu manajemen. Jadi hukum supply dan demand sudah berlaku dalam hal ini.

Lepas dari diskusi (rapat tepatnya) itu, saya sempat tercenung bagaimana bisa ITB berkiprah di sana? bagaimana caranya? karena dari satu sisi ITB justru sedang dalam posisi lemah karena biaya pendidikan yang makin tinggi. Apalagi kalau kita lihat persoalan kemiskinan dan korupsi bukan masalah enteng. Sudah bertahun-tahun upaya pemberantasan dijalankan dengan hasil yang belum memuaskan. Bahkan tidak jarang orang-orang atau posisi yang dianggap punya kemampuan untuk berkiprah justru terjebak dan mengikuti arus memperkeruh situasi.

Jadi setelah lama saya berpikir, tidak ada cara lain kecuali memulai dari diri sendiri. Maknanya ide-ide brilian tentang pengentasan kemiskinan atau perang dengan korupsi harus dijalankan setiap individu. bukan saatnya lagi kita bicara lantang tapi minim aksi, apalagi kalau sampai apa yang kita sampaikan itu bertentangan dengan perilaku kita sehari-hari. Contohlah misalnya kita berkoar-koar untuk berlaku jujur, penuh integritas, komitmen. berapa persen dari tindakan kita yang sudah sesuai dengan value tersebut? apakah kita masih suka menggunakan telepon atau fasilitas kantor untuk keperluan pribadi? apakah kita masih suka bolos mengerjakan proyek di luar sepengetahuan atasan atau tuntutan tugas? Apakah kita masih suka terdaftar di mana-mana dan mendapat penghasilan tanpa berkontribusi sedikit pun? atau hal-hal lain yang boleh jadi menyerempet dengan korupsi.

Sesungguhnya hal yang lebih berat dari kemiskinan rakyat indonesia adalah miskinnya mental bangsa ini. Miskin mental ini yang menumbuhsuburkan perilaku korupsi. Jadi kalau mau memulai memerangi korupsi, boleh jadi memperbaiki mental individu merupakan jalan yang baik. Kita bicara hidup bukan untuk 1-2 tahun ke depan, tapi jauh sampai anak cucu. dan bekal mental menjawab hal itu. Jika tidak, alih-alih mau memberantas korupsi dan memerangi kemiskinan tapi justru kita malah mendapat azab karena tidak melakukan apa yang kita katakan.

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (qs  shaf:3)

3 Responses to Kemiskinan dan Korupsi

  1. dicky says:

    Setujuuuu! ;))
    andai semua orang bisa menyadari, dan mencoba sedikit demi sedikit utk jujur dan bertanggung jawab dlm setiap tindakannya

  2. mursyid says:

    amin dicky, gimana kabarnya?

  3. dicky says:

    alhamdulillah … kabar baek😀

    tulisannya manteb2 nih😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: