Salam penuh makna

Pagi ini saya cukup takjub karena melihat satu pemandangan yang rasanya sudah tak lazim, atau paling tidak bagi saya sudah lama tak terlihat. Seorang istri dari pasangan muda turun dari kendaraan di tempatnya bekerja dan sebelum meninggalkan suaminya ia menyalami dan mencium tangan sang suami. Sang suami pun setelah itu pergi dengan mantap, tak terlihat keraguan atau kekhawatiran sedikit pun di wajahnya.

Subhanallahu, gambaran ini menunjukkan betapa kehidupan saat ini memang tidak mudah. Di ekstrim yang satu ada pandangan istri menjadi landasan utama bagi kehidupan keluarga termasuk pendidikan anak-anaknya. Sementara di ekstrim yang lain, wanita sudah memiliki hak yang “sama” dengan suami sehingga punya kesempatan yang sama menjadi duta keluarga untuk urusan eksternal. Tampaknya pasangan muda ini sudah  atau sedang memposisikan diri berada di antara kedua ekstrim. Entah sebagai pilihan yang mantap atau pilihan sementara menuju salah satu ekstrim.

Saya sendiri condong ke pandangan bahwa istri adalah penjaga gawang yang fleksibel. seperti rene higuita (kiper asal kolumbia) yang walaupun penjaga gawang tapi cukup sering maju ke depan membantu striker membobol gawang lawan. Mengapa demikian? ya karena di rumah butuh orang yang luar biasa hebat. Tidak kalah dengan suami yang mencari nafkah di luar rumah. siapa lagi yang dapat mendidik anak dengan baik kecuali seorang ibu? siapa lagi yang pantas mengatur anggaran belanja rumah kecuali seorang ibu? sementara itu para wanita yang bekerja tidak sedikit mendapat perlakuan yang tidak sepatutnya dari rekan kerja pria, walau banyak yang tidak terlalu menghiraukannya. Akan terlalu riskan jika penjaga gawang keluarga terlalu sering di”tackle” (digoda/diganggu/dilecehkan) oleh pemain “musuh”.

Secara tradisional penjaga gawang ya berdiri di bawah mistar. Sesekali diperlukan boleh saja penjaga gawang maju tapi tidak untuk menggantikan seorang striker. Paham yang menyamakan peran laki-laki dan wanita secara mutlak pada dasarnya menghilangkan posisi penjaga gawang dalam sepakbola kehidupan. walhasil, anak-anak yang terlahir dengan potensi luar biasa bisa jadi kemudian menjadi anak asuh para baby sitter yang biasanya minim pengetahuan, yang harus berkeliling seputar rumah untuk membujuk makan anak asuhnya, yang menuruti saja kemauan anak asuhnya. Rasanya tidak susah memahami betapa anak lebih membutuhkan kasih sayang seorang ibu dibandingkan harta, materi yang ikut dicari oleh seorang ibu. Akan sedikit berbeda halnya jika pendapatan sang ayah masih kurang untuk kebutuhan layak keluarga. Bisa saja sang istri ikut mencari tambahan penghasilan, tapi akankah menanggalkan atribut penjaga gawangnya untuk menjadi striker murni seperti suaminya?

Hal inilah yang tampak secara imaginatif di benak saya tatkala melihat salam dan cium tangan sang istri kepada suaminya tadi. Seandainya peran seorang istri atau ibu dikesampingkan, besar kemungkinan hal ini tak terjadi. mungkin yang terjadi lebih dekat pada kecupan di pipi atau lambaian tangan seraya berkata “da…”. Salut buat pasangan muda tadi. walaupun entah bergerak ke ekstrim mana, apa yang mereka jalani saat ini pastilah sesuatu yang sarat makna. ya sebuah salam kerendahan hati seorang istri yang meminta keridhaan sang suami untuk bekerja di luar keluarga.

4 Responses to Salam penuh makna

  1. Nurhajati says:

    Hmmm…ini pandanganku dari sisi lain ya. Terlepas dari alasanku bekerja karena memang tuntutan ekonomi keluarga atau karena ingin berkarya saja. Setelah kulewati jalan sekian panjang setelah anak anakku besar…Jadi seorang ibu itu memang tidak mudah. Sudah itu, gak ada sekolahan untuk menjadi seorang ibu. Semua ada pilihannya, semua ada pertimbangannya.
    Kalau diamati, masa tersulit itu memang waktu mereka kecil..karena di sana lah landasan diletakkan. Ini bagian tersulit, tidak ada rumusnya, karena semua manusia pada dasarnya beda, meskipun ada persamaannya. Karena semua manusia pada dasarnya beda maka jika punya lebih dari satu anak, tetep aja harus belajar lagi untuk anak ke dua atau berikutnya. Ya memang kemudian intinya ada pada perhatian.
    Pertanyaannya barangkali…bagaimana bisa memberi perhatian kalau kerja? Nah ini sih bisa bisanya ngatur waktu.
    Yang di rumah juga perlu hati hati…karena itu ikuti perkembangan zaman, karena di tengah nya lah anak anak kita berada. Misalnya, bagaimana situasi internet, bagaimana situasi pergaulan sekolah, dsb…
    Saya sendiri memang lebih banyak di rumah ketika anak anak kecil. Baru berkiprah di pekerjaan setelah mereka besar.

  2. mursyid says:

    yup bu, saya percaya setiap tindakan yang kita lakukan dengan sadar, insya Allah hasilnya akan baik. Persoalannya kadang kita sering terjebak dalam rutinitas, bahkan seorang ayah lebih sering mengabaikan soal ini. let his wife to manage everything… I knew that most of mothers are superwoman but it is not wise to let them go through this life alone.
    makanya sering kali saya merasa berdosa kalo sudah pulang larut…

  3. ira says:

    waks, ternyata pak mursyid penulis juga ya. tulisannya bagus2 loh….
    anyway, as a working mum who was raised by somewhat feminist mother, saya ga tahan untuk ga komentar. ;p
    saya sendiri baru saja berumah tangga, pengalaman gak ada apa2nya. melihat dari pengalaman working mum lain, yg anaknya baik2 saja, sepertinya yg penting adalah keseimbangan dan bagaimana menciptakan suasana yg baik untuk anak. jadi bagaimana pulang kantor sang ibu benar2 spent some time with her kids. transferring values, educating and watching them closely for any ‘misguidances’ or ‘mistreatments’. saya masih harus banyak belajar nih.
    i do believe that not all women are good in raising children. hence, time spent with her kids does not necessarily means better children. i’ve seen so many examples of stay at home mothers who do not have a clue on how to educate their kids or too busy tending to house chores they simply put them in front of the tv watching god knows what rubbish.
    or some frustrated mothers who feel forced to stay at home.
    i just think that it seems unfair to give women all kinds of education which enable them to be anything they want and then judged them by how well they managed their home lives (i.e how good their kids are, how tidy their houses etc). if this should be, then women shold not be allowed to go to any school/courses except child education, home economics, simplified pediatrics, nutrition and the like.
    but then again, this is a personal opinion from a woman who constantly reminded by her mother that she can be anything she wants, who has a husband who also said the same and supports her. hehehe….

  4. mursyid says:

    sorry mbak ira telat responnya karena nggak gampang juga akses internet di negeri orang yang katanya cukup maju he he.. (pake bayar sih…)

    Saya sependapat kok dengan mbak ira untuk beberapa hal. paling tidak tidak bertolak belakang 180 derajat. dunia ini indah karena hal begitu. posisi kadang menunjukkan orang saling berjauhan tapi ternyata alasan mengapa mereka pada posisi itu bisa saja sama atau banyak kesamaannya. dengan begini kan terjadi sharing biar hidup kita lebih kaya.
    oh ya wah saya kalah jauh dengan mbak ira soal tulis-menulis ini. blognya sudah cukup lama, hebat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: