Kaca mata kuda

Ada sebuah kisah seorang teman yang mengajak makan beberapa orang rekan yang telah banyak membantunya beserta stafnya yang juga sudah mendedikasikan tenaga dan pemikiran dalam menyukseskan pekerjaan. Singkat cerita, acara makan bersama sebagai wujud terima kasih kepada Allah swt dan semua orang yang terlibat itu cukup berkesan. Namun ada hal yang mengganjal bahwa ternyata ada pihak yang melihat bahwa acara tersebut tak lebih dari upaya pemborosan karena menghabiskan uang cukup besar.

Di lain kisah, seorang owner poliklinik berdiskusi dengan manajer yang sehari-hari mengelola poli tersebut. Cukup banyak hal yang dibicarakan. Salah satunya berupa perdebatan untuk tidak memberikan apresiasi yang cukup bagi seorang karyawan. Sang manajer berkeras bahwa karyawan tersebut sudah bekerja dengan baik, sementara sang owner merasa sebaliknya karena cukup banyak orang yang memberikan masukan yang sama tentang karyawan ini.

Kedua kisah di atas tidak sulit kita jumpai dengan berbagai variasi lakon, situasi, tempat dsb. Cukup banyak konflik yang muncul karena masing-masing pihak merasa benar. Dan hebatnya kalau kita mendengarkan paparan keduanya bisa jadi kita akan meng-iyakan bahwa keduanya memang benar. Lantas kenapa harus konflik? ya itu masalahnya. Orang luar yang boleh jadi meng-iyakan kebenaran keduanya berada di luar posisi salah satu pihak atau malah berada di keduanya secara bersamaan.

Contoh yang jelas sekali bisa dilihat pada sebuah sinetron. Jika ada dua pihak yang konflik, besar kemungkinan karena ada salah paham yang diketahui semua duduk persoalannya oleh penonton. Kadang kita gemes karena ingin memberitahukan kepada si pemain bahwa dia sudah salah bertindak karena kekurangan informasi. Begitulah, semakin lengkap informasi atau semakin luas pandangan kita maka semakin bijak lah kita.

Kembali pada kedua kisah di atas, tampaknya masing-masing tidak ingin melepaskan kaca mata yang digunakannya. ya seperti kuda yang pandangannya sangat sempit lewat “kaca mata” yang sering dikenakannya. Yang perlu diingat setiap kita menghadapi konflik, bukan kita ingin berasyik ria dengan konflik tersebut kan? konflik ada untuk dipecahkan. bersikukuh dengan pandangan kita jarang sekali menghasilkan solusi yang menyenangkan kedua pihak. Tidak kah lebih baik jika kita memposisikan diri pada pihak “lawan”. Sekali kita dapat memahami tindakan sang “lawan”, insya Allah kita tidak akan mudah menyalahkan pihak lawan. Tentu saja keduanya harus melakukan hal yang sama. Tidak ada hal yang tidak terpecahkan selama kita mencoba untuk berpikiran jernih memahami duduk persoalannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: