Kreativitas = kebebasan mutlak?

Waktu kami belum dikaruniai anak, saya sering kesal dengan anak-anak kecil yang berlarian ke sana ke mari saat diadakan pengajian keluarga mahasiswa muslim di hiroshima. Teman-teman lain yang anak2nya berseliweran tersebut hanya menasihati “ngomong sekarang gitu, nanti kalau udah punya anak pasti lain…”. Hal yang sama juga terjadi saat melihat rumah (tepatnya kamar) kami yang sempit kok rapih. “kalau sudah punya anak pasti lain…”. Begitulah pandangan yang berkembang di sana. Ada lagi yang berdalih atas riuh-rendahnya anak-anak pada saat pengajian atau berantakannya rumah adalah karena kreativitas. “kita tidak boleh berkata JANGAN kepada anak, anak harus dibiarkan berkreasi sesuai dengan keinginannya.

Sekarang alhamdulillah anak kami dua orang. Yang sudah agak besar rasanya tidak juga berbeda dengan prinsip yang kami pegang. artinya dia tidak mengacak rumah orang saat berkunjung ke tetangga. di rumah pun dibiasakan setiap selesai main, mainannya dikembalikan lagi pada tempatnya. Sempat juga waktu di hiroshima seorang teman bilang kalau rumah kami rapi karena masih satu anak.🙂 ada saja alasannya.

sekarang saya berhadapan dengan mahasiswa-mahasiswa yang menurut seorang teman mereka itu tidak mengenal susah. mereka lahir dengan situasi yang sudah berbeda jauh dengan orang tuanya dulu. Dan memang orang tua menginginkannya demikian karena tidak ingin kesusahan hidupnya dulu dialami oleh anak-anaknya. Tampaknya pada keluarga yang berkecukupan, apalagi dengan teori kreativitas tidak boleh dibatasi, sang anak boleh melakukan apa saja. Tidak seorang pun yang boleh melarangnya melakukan sesuatu. Orang tuanya saja tidak berani apalagi orang lain…

Saya kadang merenung apakah prinsip yang saya pegang selama ini salah? apakah kita akan membiarkan anak melakukan sesuatu yang membahayakan hidupnya? tidak hanya bahaya fisik, tetapi juga bahaya mental, iman yang nanti akan dipertanggungjawabkannya? bahkan boleh jadi akan menyeret tanggung jawab orang tua di akhirat nanti? Saya berkeyakinan ada saatnya kreativitas dikembangkan, ada saatnya kebebasan mutlak tidak diberlakukan. soal pendidikan agama, moral adalah salah satu yang tidak bisa dibiarkan tumbuh sendiri, menurut hemat saya. pengkondisian menjadi syarat penting bagi keberhasilan penanaman nilai-nilai pada anak. Memang pada akhirnya pengkondisian semacam ini akan menjadi pondasi anak dalam berperilaku. Walaupun dalam beberapa hal kita tidak membatasi anak untuk bertindak, pemahaman akan nilai2 tadi sedikit banyak akan membatasi ruang geraknya. Ada masalah kah?

Tengoklah sebuah kasus yang saya lihat kemarin. dalam sebuah pementasan seorang pelaku peran berkata “alhamdulillah, terima kasih tuhan yesus”. Ada penonton yang tertawa dan ada yang tidak. sekilas mungkin tidak bermasalah, tapi benarkah demikian? bagi seorang muslim, mengatakan yesus sebagai tuhan adalah syirik yang dosanya tak terampuni kecuali tobat nasuha. kalau dikatakan maksudnya tidak sungguh-sungguh melainkan hanya candaan saja untuk memancing tawa, etis (bermoral/pantas) kah nama tuhan dipermainkan?

Kasus lain tiga mahasiswi memerankan trio macan (barangkali) dengan liak-liuk tubuh yang ditutup dengan pakaian yang cukup ketat. banyak yang tertawa, saya juga tertawa tapi dengan sedikit kecut, apakah ini hal yang baik? mungkin kalau ada komentar dari ibu-ibu yang cukup berumur di bangku depan bisa menjawab ini dengan lebih objektif. Untuk mengundang tawa dibutuhkan kreativitas memang ya. tetapi tidak semua hal dapat dilakukan agar tawa itu muncul. Banyak juga hal yang membuat orang tertawa tanpa melakukan hal-hal yang kurang “beretika”.

Bagaimana pendapat anda?

4 Responses to Kreativitas = kebebasan mutlak?

  1. Bayu Yuswan Satria says:

    Kreativitas itu kalo ndak salah berasal dari kata kreatif/v/p…menurut analisa sederhanaku sesuai dengan pengalaman hidup selama ini, kreativitas seseorang akan muncul, dalam berbagai bentuk aktivitas, hampir bisa dipastikan, karena seserorang berada dalam keadaan tertekan/keterpaksaan…Tertekan karena ruang dan waktunya mengalami keterbatasan…Betul tidak?…

    Kreativitas juga dapat bernilai positif/p atau negatif/p tergantung pada penilaian lingkungan terhadap norma-norma sosial dan agama yang ada disekitar tumbuhnya kreativitas tersebut… “Hukum Relatifitas” lah yang menentukan…

    Kreativitas tidak akan menjadi Kebebasan Mutlak karena terjadinya pembatasan dalam nilai-nilai sosial dan agama yang dipegang kumpulan manusia (lingkungan) tersebut…

    Apalagi ya…bingung sendiri…hehehe…

  2. Nurhajati says:

    Kalau menurutku sih, ada batas yang perlu ditetapkan orang tua. Aku termasuk sama memegang prinsip bahwa anak-anak itu calon manusia, dan harus diberi kemerdekaan supaya bisa berpikir sebagai orang yang merdeka. Tapi…kita kan berada dalam masyarakat…Nah ini saja sudah membatasi. Jadi batasnya adalah kemerdekaan orang lain itu. Hak orang lain. Itu satu batas.
    Batas yang ke dua, orang tua sudah memiliki pengalaman lebih banyak ketimbang anak-anak dan memeiliki pengetahuan lebih banyak. Ini bukan judgment untuk mengatur anak-anak tapi untuk memberi rambu rambu yang mengatakan di mana batas yang perlu diperhatikan.
    Kombinasi ini agak susah, memang perlu kewaspadaan. dan prosesnya juga seumur hidup ya enggak. Orang tua belajar terus sebagai orang tua untuk menjadi orang tua. Gak pernah selesai. Misalnya, saya merasa lega ketika menyadari bahwa bulan ini anak ku ujian dan ini erakhir mesti bayar uang spp dia yang selangit itu. Duh selesai satu nih. Ternyata setelah lihat teman teman mulai menikahkan anaknya…oooh belum selesai dong…belum menikahkan. Ketika aku cerita sama temenku yang sudah menikahkan anak ini…dia bilang…sudah nikahpun belum selesai kok…Bener juga ya…never ending role…even after they have children pun..Percaya deh.
    Itu pengalaman saya…jadi ya…itu lah sekolah jadi orang tua…pengalaman.

    Nah kalau komentar untuk yang terakhir sih…soal prinsip agama sih gak bisa ditawar. Kalau itu candaan, persoalannya apa pantas juga becanda depan banyak orang seperti itu. Apakah boleh becanda sejauh itu.
    Kalau soal tarian erotis itu, kupikir sama juga, orang bisa berdebat itu seni, …setiap orang punya value yang menentukan pandangan terhadap ini. Tapi value banyak orang bisa menjadi norma masyarakat…Saya pikir begitu. Kalau dasarnya itu. Kita tidak bicara norma agama ya. Yang itu sih sudah jelas kan.
    Di sisi lain, dari sisi akademik ada kebebasan yang cukup luas, (saya tidak tahu apakah ini dapat ditolerir sebagai kita mentolerir eksperimen lainnya) kalau ini dianggap sebagai bagian dari kegiatan akademik…
    Ah terlalu serius ya…

  3. mursyid says:

    Percaya bu he he masak nggak percaya. Kali itu maksudnya kebebasan bertanggung jawab ala pancasila ya bu.
    mengenai kebebasan akademik saya pikir sih tetap ada koridornya.

  4. Fernando Adventius says:

    saya sangat sependapat dengan Bapak. kebebasan di sini adalah kebebasan untuk mencari informasi yg plg benar seluas2nya, belajar menurut logika & hati nurani pribadi tanpa tekanan orang lain, dan berekspresi / mengambil tindakan atas inisiatif pribadi. Bukan bebas bertindak (untuk kesenangan belaka) lalu bebas dari konsekuensi tindakan tersebut seperti “filosofi hidup” anak muda sekarang (ie Free Sex – Aborsi, Stress – Drugs, etc).

    sejak kecil saya & adik2 dididik dengan disiplin yang sangat ketat, reward-punishment, ie harus belajar 4 jam/hari, tidak boleh minum alkohol, tidak boleh pacaran/ malam-mingguan / ke diskotik. saat itu saya sering memberontak & durhaka kpd ortu saya.

    namun setelah melewati usia 20 saya baru sadar bahwa ortu saya mewariskan harta terbesar bagi kami anak2nya. keluarga kami pas-pasan tapi saya & adik2 bisa kuliah di ITB (saya EL03 adik2 saya IF05 & TI06) dan sekarang kami sedang berusaha meretas jalan agar bisa studi S-2 di luar negeri (mudah2an Germany) sekalipun seperti sangat mustahil krn keterbatasan biaya.

    di sisi lain, keluarga kerabat saya yang lebih beruntung secara finansial mendidik anak2nya secara liberal. akhirnya tidak satupun dari anak2 mereka yg bisa dikatakan “sukses” padahal uang mereka banyak terkuras untuk biaya studi anak2 di Australia, hedonisme, kemewahan, dll. namun kini kedua anaknya menganggur (kecuali jika nge-band dikategorikan sbg profesi) setelah 5 tahun studi di Australia.

    orang tua SALAH jika membiarkan anak2nya berjalan ke jurang kehancuran hanya krn sebuah “mirage” yang disebut sbg “kebebasan”. Tugas orang tua adalah memastikan di masa ini bahwa anak2nya memperoleh kebebasan berpendapat, kebebasan dari rasa lapar, dan kebebasan dari rasa takut (Roosevelt’s freedom) sepanjang hayat anak2 mereka.

    sekarang jika saya kembali ke masa lalu & bisa memilih, saya tentu lebih memilih dididik dengan disiplin keras ketimbang “bebas lepas”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: