Hargai dirimu sendiri, but…

Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan dua orang agen asuransi yang cukup ternama menawarkan paket pendidikan untuk anak-anak saya. programnya cukup menarik, apalagi dengan proteksi yang diberikan. Hanya saja, karena pengeluaran sudah cukup banyak, saya masih pikir-pikir untuk mengambil program ini. Dalam masa itu, saya diskusi dengan seorang senior yang lebih paham tentang bentuk-bentuk investasi. Sarannya kepada saya: “prinsip yang dipegang adalah bayarlah diri kita sendiri, baru orang lain”. Artinya soal cicilan motor, rumah dsb adalah untuk orang, sedangkan pendidikan anak kita nanti adalah untuk kita. Jadi teman ini merekomendasi saya untuk mengambil program tsb.

Kakak saya di jogja sudah lebih dari 20 tahun menjalankan bisnis konveksi, mulai dari sablon kecil-kecilan sampai sekarang punya karyawan sekitar 20 orang untuk menjahit kaosnya. pernah kami berdiskusi (mungkin 10 tahun yang lalu) dengan saudara-saudara yang lain saat membicarakan kok kehidupannya  biasa-biasa aja. salah satu yang disinggung di situ adalah si kakak ini tidak pernah menggaji dirinya sendiri. dia akan memanfaatkan sisa pengeluarannya untuk kebutuhan diri atau keluarganya. Terlepas pola itu membuat dia survive, kami sepakat bahwa dia perlu menggaji dirinya dulu yang memang all out sebagai owner, manager, kadang tukang sablonnya, memotong bahan dsb.

Belajar dari dua cerita di atas, adalah perlu untuk menghargai diri kita sebelum menghargai orang lain. seperti banyak kata orang bijak, kalau kita sudah kenal diri sendiri kita akan mudah memahami lingkungan kita, bahkan untuk keberadaan Sang Pencipta. atau hargailah orang lain seperti kita menghargai diri sendiri. Ini berarti sebelum kita menghargai orang lain, maka kita harus menghargai diri kita sendiri secara baik.

But, segala sesuatu di dunia ini tidak boleh berlebihan. Kalau kita terlalu menganggap diri kita adalah yang paling hebat, paling berjasa, paling ganteng dsb maka itu sudah jatuh pada kesombongan. dan sombong itu adalah satu-satunya karakter setan yang menyebabkannya diusir dari surga oleh Allah swt. Jadi berlebihan di sini menjadi sangat berbahaya dan fatal.

Saya sering berdiskusi dengan istri, jangan sampai uang iuran anak-anak yang ikutan sekolah di rumah kami terpakai untuk kebutuhan pribadi hanya karena banyak fasilitas kami yang menyediakan. Saya juga tidak cukup berani untuk “berfoya-foya” hanya karena memegang uang milik organisasi atau sekelompok orang. mengapa? karena itu tadi, adakah dasar yang kuat bagi kita untuk mengambil bagian walaupun kecil dari fasilitas, uang yang bukan benar-benar milik kita? sekali kita merasa saya kan yang punya fasilitas, saya kan yang sudah bersusah payah, rasanya saatnya untuk istighfar agar tidak jatuh pada kesalahan yang dilakukan setan dahulu.

Ya Allah, bimbinglah kami agar senantiasa ingat pada ajaranmu untuk tidak berlebihan. Dan jauhkan kami dari sikap sombong hanya karena kami telah menduduki posisi lebih dari yang lain… amin

3 Responses to Hargai dirimu sendiri, but…

  1. Nurhajati says:

    Dalam hal ini lah kita perlu sebuah sistem yang transparan dan memenuhi syarat procedural justice. Saat sistem ini dikembangkan, saat sistem ini diterapkan azas adil, dalam batasan adil nya manusia dapat diterapkan. Kalau tidak bisa diimplementasikan? Ya sami mawon. Ketidakadilan ketidak adilan akan muncul. Misalnya, dalam menjelaskan teori penggajian (yang notabene merupakan praktek yang berkaitan dengan menimbang “harga” tiap posisi) saya selalu menjelaskan bagaimana kita akan mengatur perbandingan gaji tertinggi dengan gaji terendah? Satu banding 40? atau berapa. Ini bukan sekedar angka, karena di perbandingan ini tersirat, bagaimana kita menghargai strata di organisasi ini. Siapa yang menentukan perbandingan 40 : 1 ini? Pasti top management kan atau owner.
    Kita harus bisa menghargai diri sendiri itu tidak lepas konteksnya dengan kita menghargai orang lain. Karena bisa juga kita bisa menghargai diri sendiri tapiiii tidak bisa menghargai orang lain.
    “Kita harus bisa menghargai diri sendiri supaya kita juga bisa menghargai orang lain adalah kata-kata bijak yang mungkin hanya bisa diapahami oleh yang memiliki kebijakan yang sudah tinggi.
    Persoalannya bukan berlebihan atau tidak, tapi adil atau tidak. Apakah kita memperlakukan diri kita (dan orang lain tentunya, karena ini konteksnya dalam organisasi) secara adil atau tidak. Saya menekankan konteks, karena kalau kita bekerja untuk diri kita sendiri, gak ada orang lain yang dipikirkan kecuali antara diri kita dengan Tuhan. Itu pun masih tidak lepas dari anak, istri, suami yang memiliki hak atas perhatian kita.
    Apalagi dalam organisasi. Kalau organisasi ini milik kita pun, hasil yang dicapai kan karena bantuan orang lain juga. Ini perdebatan yang tidak pernah berhenti dalam organisasi karena ada dua pihak yang sebetulnya berada di dua posisi yang beda, majikan – pegawai, bos – bawahan, dst.
    Dalam kasus pertama Mursyid, bos atau majikan atau owner mengambil keputusan untuk memberi harga lebih tinggi atau setidaknya prioritas lebih tinggi ke karyawannya.
    Dalam kasus lain, dan ini sudah sering terjadi, justru majikan menentukan dulu untuk diri sendiri lebih besar dan lebih baik. Ini terjadi di kasus kakak ipar saya. Yang kaya majikannya, dianya mah tetep aja miskin sebagai direktur yang mati matian mengelola perusahaan itu. Kalau dia tinggalkan tuh perusahaan, aku yakin yang lain gak akan sebaik dia menjalankannya. Soalnya perusahaan itu dari kecil hingga besar dia yang membesarkannya. Nah kalau sudah begini, kan balik lagi ke soal menimbang bobot. menimbang harga.
    Sulit memang menentukan timbangan yang adil itu.

  2. mursyid says:

    ya memang sulit kayaknya. makanya mencari pemimpin yang adil itu sulit ya bu. rasanya baru ada di kisah-kisah dulu yang kalau bukan nabi mereka adalah orang yang benar-benar zuhud seperti para khalifah. Yang saya pikir pasti, rasa adil bersumber dari iman dan itu harus dibina sejak kecil dan terus dimaintain.
    tq bu sharingnya, makin top aja nih😉

  3. Aurik says:

    orang bijak bilang: barangsiapa dengan ikhlas menghargai orang lain maka orang lain akan menghargai juga dirinya (anonim: lupa kok).. maka jadilah orang bijak yang mengedepankan kepercayaan dan mengembangkan pola pikir positive thinking (keren euy..) or bahasa aslinya “khusnu’dzon” (wah bener nggak ya spelling-nya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: