Budaya global vs iman

Setelah menempuh perjalanan lebih dari 24 jam, saya sampai juga di szazhalombatta, sebuah kota kecil di hungaria. kedatangan kami untuk mengikuti summerfest2007 yang katanya festival terbesar di eropa timur. ada 24 negara yang ikut serta pada festival kali ini.

Walaupun festival baru dibuka hari ini, sejak kemarin sudah ada acara weolcome to hungary yang diselenggarakan oleh panitia. Menarik sekali karena walaupun terkesan kecil, kota ini bisa menyelenggarakan even international. Manajemennya juga cukup rapi. Walaupun banyak warga local yang tidak bisa berbahasa inggris, para voluntir cukup banyak yang menjadi penerjemah. Mereka umumnya mahasiswa perguruan tinggi ataupun siswa sekolah menengah.

Yang tampak pertama kali adalah memang sebuah pagelaran budaya dunia. Berbagai ragam style wajah bangsa2 di dunia, alat dan irama musik, tarian dan bahasa berbaur pada event ini. Sebuah nikmat yang patut disyukuri bisa hadir di sini melihat itu semua. Bukankah Allah swt memang menciptakan manusia berbangsa-bangsa untuk saling mengenal? Saya jadi kenal dengan Thomas sang penerjemah untuk grup Indonesia, ada meiko san dan ishii san dari Hiroshima (sabishii naa), ada loti dari local yang ramah di reception desk dan banyak lagi warga dunia lain di sini.

Tapi hidup memang bukan sesuatu yang selalu indah. Ada malam ada siang, ada dingin ada panas, ada setan ada malaikat. Di tengah nikmat tadi, jika tidak hati-hati kita akan mudah tergelincir karena godaan ada di mana-mana. Mulai dari pakaian minim para peserta perempuan, tingkah polah yang tidak kenal adab pergaulan antara laki dan perempuan, membuat event ini juga menjadi ajang intervensi satu budaya ke budaya lain.Yang tidak kuat akan mudah dipenetrasi yang lain. Mudahnya seseorang untuk dibujuk berpesta dansa dansi sambil dipeluk dan sebagainya sungguh membuat hati ini ngeri melihat masa depan. Ini memang bagian kecil dari peradaban dunia, tapi gambaran inilah yang dapat menjelaskan fenomena yang disampaikan Rasulullah saw bahwa pada akhir jaman islam kita hanya tinggal nama. Kita mengaku beragama islam, tapi tingkah laku kita jauh dari ajaran Islam. Pemeluk Islam hanya seperti buih, banyak tapi mudah terombang ambing karena tidak memiliki identitas yang kuat. Selamat bagi mereka yang berkerudung, setidaknya itu ikut membentengi mereka dari ajakan-ajakan setan yang berparas rupawan.

Pada akhirnya semua berpulang pada kita, bagaimana menyiapkan diri dan keluarga untuk menghadapi perang budaya ini. Sekolah tak cukup kuat untuk membekali kita, kalau bukan menjadi salah satu faktor yang malah mereduksi pesan-pesan moral keluarga. Makin berat lah tanggung jawab seorang ayah, karena panas api neraka selalu menunggu bahan bakarnya dari lalainya kepala keluarga membentengi akidah keluarganya. Na’udzubillaahi min dzaalika.

14 agustus di szazhalombatta

2 Responses to Budaya global vs iman

  1. Aurik says:

    pantesan USP dan HH dulu betah pas di China:-)

  2. mursyid says:

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: