Negeri Se(m)b(a)rang

Sering kita berandai-andai atau berkelakar dengan mengatakan sesuatu yang kita ceritakan itu terjadi di negeri antah-berantah. Boleh jadi karena memang kita tidak tahu tempat terjadinya cerita itu atau karena maksud menyindir kita semua🙂 Tapi sekarang saya lebih senang memberi label negeri sembarang (instead of negeri sebrang – negeri tetangga). Bagaimana tidak, netto dari progress negeri ini cenderung negatif menurut hemat saya.

Mari kita lihat lebih jauh. Dalam perjalanan pulang ke rumah di cigadung dari rumah orang tua di cibeureum, banyak hal merefleksikan betapa … (silakan diisi) negeri ini.

Mulai dari fasilitas jalan, yang dari dulu hingga saat ini selalu tambal sulam. jalan mulus hanya dapat dihitung dengan jari, selebihnya lubang sudah mulai menganga menanti korban (alhamdulillah rasanya belum ada korban jiwa) setidaknya shockbreaker kendaraan yang melaju kencang. belum lagi di tengah jalan terdapat tong yang mungkin digunakan panitia 17 agustusan atau panitia pembangunan masjid. Tidak ada orang dekat tong tersebut, tapi jelas tong itu menghabiskan space yang sudah lumayan sempit.

Berikutnya masalah pengendara motor. Saya pernah bersimpati ketika membaca sebuah email yang mewakili pengendara motor yang di mlist dosen itb dicap sebagai pembenaran atas pelanggaran yang sering dibuat pengendara motor. Tapi setelah mengalami berkali-kali, saya berkesimpulan memang jumlah yang begitu banyak ditambah dengan sikap ugal-ugalannya, sudah saatnya pengendara motor ditertibkan. Mereka menyalip kendaraan dengan cara zig zag, ada yang dari kiri ke kanan, ada yang dari kanan ke kiri. Ini jelas membahayakan keselamatan mereka DAN ORANG LAIN. Jika ada mobil berhenti di tengah jalan, mereka yang berkendara di sisi kiri mobil hampir tidak pernah berpikir mengapa mobil tsb berhenti. tiba-tiba ada pejalan kaki muncul dan terjadilah tabrakan. yang namanya garis putih penuh bahkan dobel seperti pemanis jalan saja. jalur yang macet tidak membuat mereka antri tapi kemudian malah mengambil jalur kanan yang diperuntukkan kendaraan dari arah sebaliknya.

Angkot, jangan ditanya bagaimana kelakuannya. berhenti bisa di mana saja (maklum juga sih karena customer oriented :(  ). Ngetem sembarangan, dan yang cukup mengesalkan adalah berhenti di jalur yang seharusnya boleh belok kiri langsung di perapatan dago dari arah siliwangi. Bayangkan, kondisi sudah macet, tapi jalur kiri tidak bisa bergerak karena ada angkot (yang sebenarnya bisa mobil pribadi juga, saya pernah melihatnya di lain waktu) yang ingin “duluan” tapi kena lampu merah. Paling tidak 2 kali lampu merah arus mobil terhenti. hmmm

Polisi. nah di depan angkot yang sembarangan tadi ternyata ada polisi yang mengatur lalu lintas. saya tidak habis pikir apa yang ada di benak pak polisi itu. mungkin ya kalau menilang sopir angkot percuma saja karena alasan tidak punya uang atau alasan lainnya. tapi bukankah pelanggaran tsb harus ditegur. akhirnya suuzhan yang berlaku karena jika mobil pribadi mungkin sudah ditilang dan diminta uangnya… hmmm

alhasil jarak yang biasa saya tempuh maksimal 45 menit jadinya 1,5 jam. saya sering memikirkan hal ini untuk mencari solusinya tapi belum ada yang pas. hampir semua rumus yang berlaku di negeri orang tampaknya tidak berlaku di negeri sembarang ini. Astaghfirullaah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: