Fleksibilitas, kapan dijalankan?

Sudah tidak asing lagi rasanya bunyi pernyataan “aturan dibuat untuk dilanggar”. Seringnya sih kalimat ini disertai senyum atau tawa (ada yang bener-bener ketawa, ada yang senyumnya kecut). Artinya kalimat ini benar-benar sudah menjadi kenyataan di negeri ini. makanya ada orang yang ngeri jika berpikir bagaimana negara ini ke depan atau tertawa keras sebagai wujud protes ketidakberdayaan diri dan pesimisme untuk melakukan perubahan.

Hampir di seluruh aspek kehidupan di negari tercinta ini kita temukan pelanggaran aturan yang kita buat sendiri. Hebatnya lagi tidak ada rasa bersalah apalagi sungkan untuk melanggar apa yang telah disepakati sebagai aturan. salah satu alasan yang sering digunakan untuk membenarkan pelanggaran sebuah aturan adalah fleksibilitas.  Aturan kita anggap sering terlalu kaku sehingga sangat menyulitkan kita sendiri. tapi sadarkah kita bahwa kita tidak pernah akan berada pada situasi yang mudah terus. suatu saat pasti menemukan situasi sulit. Nah apakah hanya karena kita sulit maka aturan yang sudah disepakati harus dilanggar? lagipula boleh jadi pelanggaran itu hanya enak buat kita, bagaimana untuk orang lain?

Ambillah contoh lampu lalu lintas di malam hari. hanya karena jalan sepi, banyak orang melanggar lampu merah. “toh nggak ada kecelakaan kok”. Setujukah anda? kalau ya maka kita sebenarnya sudah masuk pada kaum membenarkan segala cara. Mengapa? karena kita bisa saja memperluas alasan itu sehingga siang hari pun kita langgar lampu merah. Selama kita bisa jamin tidak ada kecelakaan, bolehkah kita melanggar lampu merah pada siang hari? jadi kuncinya bukan pada tidak ada kecelakaan, tapi aturannya sendiri. memang kita perlu untuk terbuka memikirkan berapa lama lampu merah di suatu jalan harus menyala, dan itu yang memang perlu dilakukan.

ada banyak lagi contoh orang melakukan pelanggaran hanya karena menganggap tujuan diadakannya aturan itu tetap tercapai walau pelanggaran terjadi. Kalau sudah begini apa gunanya aturan? hemat saya fleksibilitas tidak boleh sama sekali digunakan sebagai alasan untuk melanggar aturan. Mekanisme untuk mengubah kekakuan sistem tidak demikian. sistem dengan aturannya harus ditinjau dulu untuk kemudian diputuskan aturan pengganti. setelah itu kita akan tetap dapat bekerja sesuai dengan harapan kita tanpa melanggar aturan. Dengan demikian, yang perlu dikembangkan adalah pola interaksi kita yang terlibat dalam aturan sedemikian rupa sehingga evaluasi sebuah sistem dan aturan menjadi sesuatu yang mudah.

Berbeda halnya jika demikian: suatu hari jumlah kasir di sebuah pusat perbelanjaan ada dua. semakin siang pelanggan semakin banyak sehingga yang antri di kedua kasir ini memanjang. andaikata ada kasir lain atau orang yang dapat bertugas sebagai kasir, penambahan kasir menjadi sesuatu yang harus dilakukan. hal ini tidak melanggar aturan karena memang tidak ada aturannya kasir harus selalu 2 (kalau ada, maka aturan ini harus segera ditinjau kembali) dan tujuannya bukan untuk kepentingan seorang (baca kita) saja. Dalam hal ini fleksibilitas menjadi penting.

Kalau boleh diambil kata kuncinya:  (i) fleksibilitas boleh dilakukan selama tidak melanggar aturan, dan (ii) akibat penerapan fleksibilitas tsb harus menjadi manfaat buat orang banyak. Untuk menjamin keberlangsungan hidup sistem diperlukan kondisi yang  terus aktif memantau dan memperbaharui sistem.

2 Responses to Fleksibilitas, kapan dijalankan?

  1. sultanhabnoer says:

    Salam kenal Bung!

    Itulah Indonesia…buat aturan hanya untuk dilanggar, bukan untuk diimplementasikan. Mungkin ini juga menjadi cermin terhadapa lemahnya penegakan aturan di negeri ini

  2. Fernando Adventius says:

    Wah Pak, saya rasa sangatlah sulit bagi masyarakat Indonesia yang hidup selama ratusan atau ribuan tahun dengan aturan tidak tertulis & sistem kekeluargaan untuk bisa taat dengan barang baru “aturan tertulis”.

    Bangsa Indonesia baru mengenal istilah “aturan tertulis” ketika agama Islam datang pada abad ke-13 di Sumatera, abad ke-15 di Jawa; pemerintahan Hindia Belanda abad ke-17; dan agama Kristiani datang di Indonesia timur abad ke-16.

    Berarti masyarakat kita baru rata2 500 tahun mengenal “aturan tertulis” dan masih dalam tahap belajar.

    Jadi wajar saja kalau masih “fleksibel”.

    Menurut saya cara2 meng-akselarasi tahap belajar tsb:
    1. Para pemimpin & guru memberikan contoh bagaimana menaati peraturan.
    2. Para pelajar Indonesia diberikan beasiswa untuk kuliah di negara-negara yg sudah matang dengan adanya “aturan tertulis” spt Jepang, Jerman, Inggris, & Skandinavia.
    3. Kita impor guru dari negara-negara tersebut yang berani dengan tegas menegakkan kedisiplinan & memberi contoh yg baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: