Konsep Belajar dalam Bekerja

Pernahkah kita renungkan, berapa lama sudah kita bekerja? dari waktu tersebut, berapa banyak ilmu yang sudah bertambah? skill apa yang terus meningkat? atau apa nilai tambah lainnya yang kita dapat? pertanyaan-pertanyaan ini muncul lebih intensif akhir-akhir ini di kepala saya. Belakangan ini saya sering mengamati beberapa kawan ataupun karyawan umum di bagian administrasi. Beberapa orang (sebenarnya cukup banyak, bahkan boleh jadi secara umum) saya lihat bekerja giat dan tampak kerja keras, tapi tidak cukup banyak perubahan berarti dalam cara kerjanya. Sepertinya mereka belum belajar dari pekerjaannya.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa kita harus belajar saat sedang bekerja? bukankah waktu sekolah kita belajar, setelah tamat ya bekerja? memang demikianlah yang terjadi saat ini. Orang memisahkan kegiatan belajar dan bekerja. Padahal menurut hemat saya hal tersebut salah kaprah. mengapa?

1. Belajar memang diperintahkan dari sejak lahir hingga akhir hayat (haditsnya saya tidak hafal, maaf). Tidak ada perintah belajarlah saat duduk di bangku sekolah saja.

2. Belajar diperlukan untuk meraih hasil yang lebih baik, paling tidak kita tidak mengulangi kesalahan. pepatah mengatakan keledai saja tidak terjerumus pada lubang yang sama dua kali. Orang yang bekerja tanpa belajar berarti dia mengulang terus apa yang dilakukannya berkali-kali, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun. Artinya pengalaman yang sama berulang-ulang. Kata orang HRD (SDM) orang semacam ini tidak lebih baik (lebih buruk barangkali) dari orang yang punya pengalaman sedikit tapi di berbagai bidang. jadi belajar itu mutlak dilakukan saat kita bekerja.

3. Belajar tidak memerlukan waktu khusus. Jadi belajar dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dengan siapa dan media apa saja. So apa ruginya belajar?

contoh sederhana, setiap tahun orang membuat rencana anggaran misalnya dengan EXCEL, tapi setiap tahun pula excel yang sama itu diganti-ganti datanya satu persatu. Sangat minim penggunaan formula, fitur-fitur yang ada, apalagi fasilitas yang lebih canggih. Dan masih banyak lagi contoh teknis orang bekerja tanpa improvement dari waktu ke waktu.

Contoh lain, ada dosen yang mengajar dengan bahan yang sama setiap tahun tanpa perbaikan. Tidak ada yang baru dari pola, media, materi perkuliahannya. Yang semacam ini bukan saja tidak menarik, tapi justru akan menghilangkan minat orang untuk belajar.

Contoh yang lain lagi, ada warung yang dari dulu sampai sekarang (mungkin lebih dari 10 tahun) ya begitu-begitu saja. Beberapa kasus menunjukkan bahwa warung semacam ini survive, tapi banyak juga yang memperlihatkan karena memang dikelola apa adanya, setiap tahun tanpa perbaikan. dan banyak lagi contoh lainnya.

Hadits nabi mengatakan kira-kira seperti ini “Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia celaka; barangsiapa yang hari ini sama dengan kemarin, maka ia rugi; barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung”. so kita mau celaka, rugi atau untung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: