Manajemen Tanpa Perencanaan

Entah untuk kali ke berapa saya menemukan pekerjaan galian pinggir jalan besar. Atas nama berbagai proyek galian tersebut dilakukan. Masih bagus kalau setelah proyek itu jalan yang terkena dampak kembali pada kondisi semula. Tidak jarang bekas proyek itu menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Selama proyek berlangsung pun tidak ada upaya untuk mengatasi kemacetan atau ketidaknyamanan yang dirasakan pengguna jalan. Proyek tambal sulam seperti ini sudah menjadi trademark kita. Sayang saya tidak mencatat secara khusus berapa kali kejadian seperti ini berulang.

Di lain tempat, di sebuah perguruan tinggi yang katanya banyak orang cerdas (orang pintar konotasinya lain he he) sekian program sudah dibuat (at least katanya) tapi miskin implementasi. Boleh jadi karena tidak ada dana, tapi umumnya menurut hemat saya terjadi karena miskinnya perencanaan.

Beruntunglah perusahaan-perusahaan besar (multinasional) yang keuntungannya berlipat-lipat dari biaya produksinya. Tanpa perlu bersusah payah mengadakan program perbaikan, perusahaan tetap berjalan dengan lancar. Dua perusahaan besar yang saya kunjungi baru-baru ini membuktikan pada diri saya tentang kesimpulan tersebut. Sebenarnya tidak banyak hal-hal di masa mendatang yang diantisipasi. Cukup bergelut dengan kekinian saja sudah cukup untuk survive.

Mungkin ada banyak lagi fakta-fakta yang bisa dibeberkan untuk menjelaskan betapa kita (bangsa kita) secara umum lemah dalam melakukan perencanaan. Seorang rekan yang bekerja di sebuah yayasan yang cukup profesional mencoba menyimpulkan mengapa fenomena ini terjadi. Salah satu kesimpulannya adalah kita lemah dalam urusan detail. Seorang senior yang lama berkiprah di IBM berbagi catatan yang serupa, bahwa kita umumnya lemah dalam perencanaan. Ini berarti kita jarang melihat masa depan atau konsekuensi lebih jauh dari suatu tindakan atau keputusan di masa sekarang ini. Kita lebih senang membuat torehan-torehan sejarah karena telah mencetuskan sebuah ide, memulai sesuatu yang baru, ya sekedar meninggalkan legacy.

Sampai saat ini belum ada yang merevisi konsep tentang manajemen yang berakar pada plan, do , cek dan action (PDCA). Aspek perencanaan adalah basis dari pekerjaan manajemen. Tanpa perencanaan yang baik sebenarnya kita telah berencana untuk menuai kegagalan. melalui catatan ini saya ingin mengingatkan diri sendiri bahwa mulailah sesuatu dengan perencanaan yang “matang” (tidak harus perfect). Terlalu besar biaya yang harus ditanggung karena lemahnya perencanaan. Hanya organisasi yang sangat kaya bisa menutupi biaya tersebut. Tapi seberapa kuat dan kayakah kita untuk menghindarkan kita dari kehancuran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: