Proses Bisnis dan ERP

Barusan saya menutup kuliah SCM dengan topik IT dalam SCM. Kasus yang dibahas adalah “tektronix, Inc: Global ERP Implementation”. Dari diskusi yang berkembang tampaknya ada hal mendasar yang kurang diperhatikan peserta atau mungkin juga belum diketahui. Hal mendasar tersebut adalah kaitan antara ERP dan proses bisnis.

Keterkaitan antara ERP dan proses bisnis baru akan terungkap biasaya setelah kita mencoba mempelajari mengapa banyak projek ERP gagal, khususnya di Indonesia. Waktu yang lama, banyaknya legacy systems, resiko yang besar, besarnya investasi, kompleksitas perusahaan (local, regional atau global) dituding sebagai hambatan dalam implementasi ERP. Menurut hemat saya faktor-faktor ini hanyalah konsekuensi dari persoalan lain yang lebih mendasar, yaitu gap yang sangat besar pada proses bisnis.

Seberapa besar gap yang terjadi? mari kita lihat lebih jauh. Sebutlah nama ERP software yang leading saat ini agar kita dapat mengatakan posisi best practice saat ini. Apa hakikat yang kita beli dari ERP software ini? Ya, yang kita beli pada dasarnya adalah proses bisnis yang sudah diotomasi dan dipadu dalam jaringan komputer. Bayangkan jika saat ini kita belum memiliki proses bisnis yang baku dan lengkap (sebutlah low practice), bagaimana mungkin dapat mengikuti semua proses dalam software tersebut? Pengalaman saya mengatakan pada kondisi ekstrim hanya 10% fitur yang dapat dimanfaatkan organisasi low practice dalam mengimplementasi ERP system.

Besarnya usaha menerapkan ERP akan sangat ditentukan oleh besarnya gap antara current practice dan best practice. Semakin kecil gapnya akan semakin kecil pula resource yang digunakan. Oleh karena itu keputusan untuk menerapkan ERP harus didahului oleh mapping dan analisis terhadap proses bisnis saat ini. Sejauh pengetahuan saya, masih banyak perusahaan belum aware dengan pentingnya memiliki proses bisnis yang baku dan lengkap. Boleh jadi karena tidak tahu, tidak peduli (karena keuntungan perusahaan sangat besar sehingga inefisiensi proses dapat diabaikan), atau belum memiliki resource untuk melakukannya.

Memang ada hal-hal lain juga yang menentukan keberhasilan penerapan ERP. Tidak berarti proses yang sudah dikembangkan dengan baik akan menjamin keberhasilan. Umumnya persoalan berikutnya akan sangat ditentukan oleh change management.  Itulah sebabnya perusahaan yang tidak menerapkan ERP pun (sistem aplikasi yang sederhana) dapat mengalami kegagalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: