Quality of Services

Kamis lalu saya mendapat musibah. Tas saya di dalam mobil diambil paksa oleh pencuri dengan cara memecahkan kaca jendela. setelah kaget sedikit saya mencoba menghubungi kepolisian terdekat, polsek coblong (?) di jalan sangkuriang. setelah menjelaskan kejadiannya secara singkat, pak polisi di seberang telpon bertanya apa bisa saya melaporkan langsung ke kantornya. “saya sendiri lebih senang kalau Bapak yang ke sini, tempat kejadian agar dapat melihat situasi secara langsung”, begitu kira2 balasan saya. Tapi beliau membalas, “Bapak saja yang melaporkan ke sini ya”. Disertai komentar teman-teman di kantor mengenai kelakuan polisi “malas” ini, saya ke kantornya.

Singkat cerita malam itu saya sudah mendapatkan surat keterangan kehilangan atas tas dan semua dokumen dan barang. Karena mungkin agak panik dan memang tidak ingat apa saja di dalam tas tersebut, saya menyebutkan barang-barang yang hilang seingatnya. senin pagi saat mau merapikan dokumen di rumah, saya baru sadar bahwa paspor dan kartu keluarga saya juga ikut hilang. siangnya saya coba kembali ke kantor polisi. maksudnya hendak menambahkan laporan kehilangan sebelumnya. sampai di kantor, saya jelaskan maksud saya kepada polisi yang berada di front desk. beliau minta surat keterangan yang lama, kemudian setelah melihat isinya langsung berkata bahwa saya diminta utk datang hari rabu karena petugas yang mengetik waktu itu akan dinas kembali hari rabu. Apakah begitu prosedur seharusnya? waAllahu a’lam. Yang jelas tidak ada empati sedikitpun bahwa saya sudah kehilangan, dan memerlukan perbaikan surat itu secepatnya.

***

Teman-teman di bagian akademik sering bercerita bahwa tidak jarang service kita kepada dosen part-time maupun vendor agak kedodoran. Pernah saya berinisiatif mencari tahu kenapa sebabnya. Alasan yang paling sering saya dengar adalah keterlambatan di pihak pusat. Waktu saya coba telusuri, memang ada proses yang cukup lambat di dalam sekolah, tapi ada juga yang disebabkan oleh prosedural di pusat. Tanpa bermaksud membeberkan kelemahan sistem di sini, saya menangkap tidak ada atau kecil sekali upaya untuk menyelesaikan masalah ini. Mungkin orang2 ini tidak pernah membayangkan seandainya mereka pada posisi dosen part time dan vendor yang sering terlambat menerima haknya.

***

Semua berjalan begitu saja. kelihatannya yang penting saya telah bekerja dan ada hasilnya. soal hasilnya itu sesuai dengan harapan pelanggan (internal maupun eksternal), kelihatannya tidak menjadi masalah. Tampaknya seperti inilah potret kualitas pelayanan di negeri kita. Kalau tidak percaya lihatlah lebih jauh pada proses pembuatan sim, paspor, sertifikat tanah, layanan di rumah sakit atau tempat praktek dokter dan sebagainya. Masyarakat ditempatkan sebagai benda mati, bukan raja yang harus dipenuhi keinginannya. Budaya melayani dianggap rendah hanya mungkin karena posisi pelayan/pembantu yang banyak direndahkan orang. Padahal kalau dilihat hakikatnya para pembantu itu punya jasa yang luar biasa, yang tidak selayaknya diperlakukan secara bebas oleh majikan. Apalagi para abdi negara yang tugasnya melayani masyarakat.

So, tulisan ini semoga menjadi sesuatu yang selalu mengingatkan saya pribadi bahwa melayani dengan sebaik-baiknya adalah pekerjaan yang mulia. selain bermanfaat bagi orang lain, juga insya Allah bernilai dalam pandangan Yang Kuasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: