Kota Rimba

Di awal tahun 2008 ini ada harapan besar untuk melakukan hal-hal kecil yang berdampak besar dalam hidup saya. Begitu juga dengan institusi SBM, ITB, dan masyarakat Indonesia secara umum mestinya. Rugi bahkan terkutuk orang yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin.

Ada banyak catatan kecil yang tertinggal saat memasuki tahun 2008 ini. satu di antaranya mengenai pengalaman saya di airport Timika saat kembali pulang mengajar di PT Freeport Indonesia. Sebuah pengalaman yang luar biasa, menguji kesabaran dan fisik yang belum pernah saya alami di tempat lain.

Sebenarnya kali itu adalah kali kedua saya ke Timika. Yang pertama pun sudah memberi kesan negatif. Oklah secuil saya kisahkan pengalaman pertama waktu itu. saat pulang, saya diberitahu pesawatnya akan berangkat jam 12.30 sehingga saya harus cek in jam 10.30. ini informasi dari staf PT.FI yang mengurus keberangkatan dan kepulangan saya. Tapi saat tiba di sana jam 10 lebih, petugas tiket garuda di sana mengatakan cek in baru bisa jam 12.30 karena pesawatnya berangkat jam 14.30. Hmmm, sempat panik juga karena dapat dibayangkan menunggu 4 jam (2 jam sebelum cek in, 2 jam setelah cek in) di bandara yang fasilitasnya masih jauh dari cukup.

Yang kedua kali lebih buruk lagi. Tiba jam 12 karena harus cek in jam 12.30 saya masuk dengan tenang ke dalam bandara karena merasa sudah punya pengalaman sekali. Tetapi sejak masuk, ruangan sudah disesaki banyak orang dan BARANG!!!. katanya ada 3 keberangkatan merpati sore itu, tapi cuma satu counter yang dibuka. setelah x-ray check, saya mengantri utk cek in sambil memegang tiket agar mudah saat cek in dan tidak jatuh atau terselip.

Setelah cukup lama berdiri tanpa pergerakan apapun, seorang pelanggan dari jauh juga mengatakan kepada saya untuk menyerahkan dulu tiket ke meja counter melalui sesaknya orang dan barang itu. “setelah itu nanti kita akan dipanggil,” katanya. tadinya agak ragu karena takut hilang juga tiket dengan cara begitu, dan memang saya belum pernah cek in lewat cara begitu. tapi setelah lama tidak ada kemajuan, saya merangsek ke depan untuk menyerahkan tiket ke counter.

setelah itu, menit demi menit, jam juga terlewati, proses cek in makin kacau. bagaimana tidak, petugas bandara maupun airline tidak berdaya sama sekali terhadap “preman” (sebenarnya calo tapi kelakuannya ibarat preman, bahkan lebih kasar daripada preman di kota besar) di bandara itu. antrian tidak dikenal sama sekali. mereka terus dilayani petugas ticketing. entah berapa banyak barang yang ukurannnya tidak sesuai dengan aturan penerbangan diperbolehkan masuk. kelebihan berat bukan soal selama pelanggan bisa bayar. Yang hebat, isi kardus dsb cukup dijawab dengan seenaknya oleh preman-preman tersebut, si petugas pun diam mengiyakannya. manajemen bandara tidak ada inisiatif sama sekali memperbaiki keadaan kacau tersebut. yang namanya keringat sudah mengalir ke mana-mana. ada 2 orang lain yang kelihatannya baru sekali itu ke timika. mereka sepakat untuk tidak kembali lagi ke sana melihat kejadian ini.

walhasil, dua jam setengah!!! saya cek in. oh ya di tengah kepadatan dan kekacauan itu, listrik pun sempat mati. hmmmm… ternyata di jaman yang sudah sangat modern ini, masih ada hutan rimba di tengah-tengah kehidupan kota. tadinya saya berpikir positif terhadap kemajuan di papua, tapi runtuh semuanya setelah mengalami hal tersebut.

semoga kejadian itu tak terulang lagi, buat saya, dan buat semua. semoga masyarakat di sana bisa belajar lebih baik lagi agar peradaban manusia juga menghampiri kawan-kawan di sana…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: