Catatan buat orang tua

Dua hari yang lalu saya didatangi seorang mahasiswa dan ibundanya. keduanya dengan ramah memperkenalkan diri karena kami memang belum pernah bertemu sebelumnya. Saya pun menerima dengan senang hati melihat raut wajah keduanya yang ramah. setelah perkenalan saya baru ingat bahwa mahasiswa ini adalah salah seorang mahasiswa yang ingin mengundurkan diri dari ITB.

Saya agak kaget terus terang, karena melihat penampilannya dan sosok ibunya tidak mungkin rasanya bisa kena masalah yang berakhir dengan pengunduran diri. singkat cerita, mahasiswa tadi menceritakan usahanya untuk terus berusaha tetap sekolah tapi hasilnya ya seperti sekarang ini. Ibunya ikut nimbrung melengkapi cerita sang anak. tadinya saya mengira keduanya masih ingin terus berupaya meneruskan sekolah, tapi ternyata saya salah. Sang anak dengan tegas mengatakan bahwa dia sudah berjanji untuk lebih baik lagi semester kemarin, dan kalau gagal maka dia siap mengundurkan diri. Nah ternyata kedatangannya ini ingin memenuhi janjinya tersebut. Sungguh sebuah sikap yang luar biasa.

apa yang menjadi point dari cerita ini. ya ternyata ini adalah episode kesekian dari “kegagalan” mahasiswa bertahan di kampus karena urusan keluarga. Saya tidak ingin menyatakan bahwa mahasiswa ini telah gagal, tapi at least dari kacamata ITB anak ini tidak berhasil bertahan. itu sebabnya saya beri tanda petik pada kata kegagalan. Ibunya pun dengan tegar mengatakan bahwa ini kesalahan mereka sebagai orang tua. walaupun mereka ingin sekali anaknya tetap sekolah, tapi badai di rumah tangganya terlalu besar tampaknya bagi kehidupan emosi anak-anaknya. sebuah pertemuan yang penuh makna bagi saya. sang anak siap dan tegar menghadapi masa depan, sang ibu tampaknya ikhlas menerima ujian hidupnya.

Tinggal kita yang harus mengambil pelajaran dari kisah ini. faktor intelegensia saja tidak cukup untuk mengarungi hidup ini. faktor-faktor sosial, keluarga ternyata jauh lebih besar dampaknya bagi keberhasilan seorang anak. memaksakan kehendak orang tua kepada anak sudah bukan jamannya lagi. yang lebih penting lagi, ketentraman keluarga akan memberikan ketentraman hati buat sang anak untuk berkarya dalam hidupnya. Hancurnya hubungan orang tua tidak hanya berdampak pada mereka saja, tapi juga pada anak-anaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: