Cerita dari Open House ITB, februari 2008

…Surprised… kira-kira begitulah perasaan saya ketika berakhirnya open house ITB hari minggu kemarin. Saya pikir SBM-ITB bakal seret pengunjung mengingat biaya studinya yang relatif mahal. Tapi kalau melihat stand program sarjananya yang tidak pernah kosong, rasanya kekhawatiran saya tidak beralasan. Mulai dari orang tua sampai anaknya sendiri yang bertanya jauh tentang seluk-beluk SBM. Seperti yang direncanakan, kehadiran mahasiswa SBM untuk menjelaskan program yang dijalaninya sangat membantu dalam memberikan testimony betapa bernilainya sekolah di SBM.

Waktu 40 menit yang dijatahkan terasa begitu cepat berlalu. Pertanyaan-pertanyaan yang “hanya wajar” untuk SBM mengalir dari para peserta, soal sistem pembelajarannya, biaya, focus sistemnya, profil lulusannya. Beruntung SBM dijadwalkan paling akhir karena bertambahnya waktu karena Tanya jawab yang terus terjadi tidak perlu dihentikan secara paksa😉

Dari aktivitas kemarin, saya punya kesimpulan bahwa orang tua khususnya sangat mendambakan sistem pendidikan yang benar-benar bermutu. Tampaknya bagi mereka biaya boleh jadi hal yang perlu dikesampingkan jika sudah bicara dengan mutu. Sebagian orang tua sudah membandingkan SBM dengan beberapa sekolah di luar negeri. Walaupun SBM belum apa-apa, tapi mimpinya berada di jalur yang tepat. Menjadi 1 dari top ten sekolah bisnis di asia tenggara pada tahun 2015 memang pantas dikejar karena begitu pulalah harapan para orang tua ini.

Ada satu pertanyaan yang paling mengganjal di hati, yaitu masalah biaya yang sepenuhnya masih harus dipikul mahasiswa. Kalau biaya yang relative mahal rasanya bukan persoalan karena tengoklah pendidikan yang bermutu di luar negeri, pasti mahal. Bukan karena ingin mencari untung, tapi sistemnya sendiri yang menuntut biaya yang mahal seperti mengundang visiting professor, fasilitas di kelas dan luar kelas, sistem pembelajarannya dsb. Tinggal siapa yang harus bayar. Tahun ini SBM sudah mencanangkan beasiswa, tapi ternyata belum dimungkinkan karena satu dan lain hal. Semoga saja ke depan model pembiayaan yang lebih baik dapat dirasakan oleh beberapa orang yang mampu secara akademik tapi belum seberuntung rekan-rekan lainnya.

2 Responses to Cerita dari Open House ITB, februari 2008

  1. rinaldimunir says:

    Biaya sekolah di SBM mahal nggak apa-apa, asalkan sebanding dengan yang diterima oleh mahasiswa. Gitu kan , Mursyid? Hanya pertanyaan saya, apakah mungkin mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi bisa masuk SBM? Adakah sistem subsidi silangnya seperti di “sekolah sebelah”?

  2. mursyid says:

    Saya belum bisa janji bang, tapi keinginan kita (dosen-dosen SBM) sudah ke arah sana. kalaupun tidak totally free, at least ada subsidi seperti yang bang rinaldi sampaikan. Kalau tahun ini upaya memberikan beasiswa gagal, insya Allah di tahun-tahun mendatang akan berhasil.

    Kita juga mulai menyiapkan diri untuk menambah pendapatan di luar tuition fee. semoga saja suatu saat nanti dapat mengurangi porsi yang harus dibayar mahasiswa. minta doa dan dukungannya bang ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: