Jalan Panjang Menuju Sekolah Bertaraf Internasional di Babel

Tulisan ini saya kirimkan ke bangkapos.com, ditulis secara cepat karena bukan untuk membahas detail proses menuju taraf internasional tetapi menegaskan bahwa rindu akan SBI perlu perjuangan yang luar biasa. 

Tulisan ini dibuat untuk merespon tulisan saudara Asyraf Suryadin pada kolom opini tanggal 1 maret 2008. Sekolah bertaraf internasional (SBI) memang patut dirindukan, bahkan bukan saja di Babel tapi di Indonesia. Kalaupun ada sekolah bertaraf internasional saat ini di Indonesia dikembangkan oleh swasta yang bekerja sama dengan lembaga internasional dan didukung modal yang sangat kuat. Oleh karena itu, SBI jelas dirancang dengan sangat matang, komitmen penuh dan konsistensi. 

Cukup membanggakan jika sudah ada cita-cita dalam Sistem Pendidikan Nasional kita untuk mengembangkan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan bertaraf internasional di setiap jenjang. Namun demikian cita-cita ini perlu dijabarkan lebih lanjut menjadi program pendidikan yang dapat diterapkan secara nyata. Sudah menjadi kebiasaan bangsa ini untuk membuat rencana yang secara konseptual baik sekali tetapi lemah dalam implementasi. Yang lebih parah lagi, produk atau program yang diluncurkan kadang secara perencanaan pun belum matang. Itulah sebabnya gagasan SBI ini harus ditindaklanjuti dengan sungguh-sungguh jika tidak ingin mengulang pengalaman serupa dalam banyak kasus. 

Mimpi atau angan-angan

Sebelum menelaah lebih jauh pada detail konsep SBI, perlu didefinisikan apa yang dimaksud dengan taraf internasional. Apakah kurikulumnya saja, ataukah bahasa pengantar yang digunakan, atau faktor yang lain. Yang paling masuk akal adalah skema akreditasi internasional. Jika memang demikian, ada fakta yang cukup menarik. Di jenjang pendidikan tinggi, siapa yang meragukan kemampuan banyak dosen di ITB, UI, UGM yang memang karyanya sudah bertaraf internasional. Tapi fakta menunjukkan bahwa sepengetahuan penulis di ITB hingga saat ini belum ada program studinya yang terakreditasi secara internasional. Mungkin perguruan tinggi lain pun mengalami hal yang sama. Tanpa bermaksud mengecilkan arti akreditasi nasional, fakta tadi mengatakan program studi dengan akreditasi A pun belum sanggup mendapat akreditasi internasional.  

Berkaca dari kasus di atas, dapat dibayangkan betapa rindu akan SBI dapat menjadi hanya angan-angan semata jika tidak digarap secara serius. Apatah lagi jika ingin diterapkan pada jenjang yang lebih rendah misalnya pada tingkat sekolah dasar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kompetensi guru di Indonesia cukup mengkhawatirkan.  Bagaimana akan menjadi bertaraf internasional? 

Ada hal lain yang perlu dicermati soal mimpi mewujudkan SBI ini. Pengembangan SBI harusnya tidak dapat dipisahkan dengan keinginan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Konsekuensinya, upaya membangun SBI tidak akan berdampak besar secara nasional atau lokal provinsi tanpa membangun standar pendidikan yang ada. Bagaimana mungkin seorang pemain lokal dapat langsung terjun ke arena internasional jika tidak dikenal di level nasional. Ada prasyarat yang harus dipenuhi sebelum melangkah ke level internasional, yaitu standar nasional sudah dipenuhi. Apakah kita sudah sampai pada level ini? 

Apa yang harus dilakukan

Apapun fakta yang kita miliki saat ini, tidak perlu berkecil hati untuk meraih mimpi memiliki SBI. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini? Ada beberapa hal yang mungkin dapat dilakukan mulai saat ini:

  • Komitmen penuh untuk mewujudkan mimpi ini. Sudahkah para pemimpin (kepala daerah, praktisi pendidikan, pimpinan sekolah, industri) memiliki komitmen dalam hal ini? Tanpa komitmen penuh, jangan harap mimpi ini dapat terwujud. Semua komponen yang menjadi stakeholder SBI harus terlibat aktif sesuai dengan perannya masing-masing
  • Pelajari faktor yang menjadi persyaratan akreditasi internasional. Sebuah kekonyolan jika tanpa mempelajari hal ini kita bermimpi membangun SBI alias hanya berdasarkan rekaan semata.
  • Berdasarkan pengetahuan atas standar internasional tadi, standar pendidikan perlu dikembangkan paling tidak untuk level nasional terlebih dahulu. Secara bertahap standar ini yang kemudian akan ditarik oleh pengembangan SBI sebagai lokomotif pendidikan di Indonesia. Sampai di sini saja akan ada banyak pekerjaan rumah bagi kita semua. Data menunjukkan untuk meraih akreditasi internasional oleh sebuah fakultas bisnis di perguruan tinggi minimal sudah beroperasi 10 tahun. Itupun dicapai oleh perguruan tinggi yang sudah berumur.

Oleh karena itu, menetapkan mimpi SBI ini sesegera mungkin adalah hal yang positif dan patut diacungi jempol. Tidak semua sekolah berani menyatakan mimpi seperti ini. Hanya saja hal itu belum cukup. Harus langkah-langkah nyata yang dilakukan untuk mewujudkannya.

 

7 Responses to Jalan Panjang Menuju Sekolah Bertaraf Internasional di Babel

  1. epindri says:

    yang dimaksud dengan pengertian SBI apa sih…. tolong bantuannya bang penting banget…thanks

  2. mursyid says:

    Sekolah Bertaraf Internasional, silakan temukan istilah ini di internet karena sudah banyak digunakan orang.

  3. lutfia dwi rahariyani says:

    apakah konsep ini sudah matang, tujuannya untuk apa? jangan sampai terjadi kebohongan publik

  4. Mursyid Hasanbasri says:

    Rasanya banyak yang mempertanyakan kelayakan dari konsep ini, dan belum ada jawaban yang tegas dari yang berwenang (diknas?). Saya punya kekhawatiran yang sama bahwa jangan sampai istilah ini hanya digunakan untuk kepentingan sesaat. Pengalaman saya justru menambahkan embel-embel internasional bukan hanya ala kadarnya, tapi konsekuensinya bukan main-main.
    Kalau ada ide bolehlah dishare mbak lutfi, hitung2 menjadi bahan untuk membangun konsep yang lebih utuh dan integral.
    tq

  5. hita says:

    i just want to say
    if actually sbi is good enough
    but its so bad for the poor people
    so i thinks SBIjust for rich people
    and i’m waiting for international school for poor people ????????????
    if it be realize
    i’ll be the first……

  6. Mursyid Hasanbasri says:

    hi Hita,
    I agree with you, there are so many things to be considered to realize not only SBI, but also national standard school. Content/curriculum is one thing, tuition fee is another thing to be dealt with.
    I am really aware of this matter since my family is not a rich family. My master and doctoral degree were supported by government through scholarship. School must have a good quality, but the tuition must not always paid by the student.

  7. Noor Waahid says:

    Terima kasih sudah mau bermimpi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: