Mengelola Tanpa Manajemen

Judul yang aneh mestinya karena manajemen identik dengan mengelola. Namun pada prakteknya banyak sekali kita jumpai organisasi yang dikelola atau dijalankan tanpa manajemen. Banyak proses dan aktivitas yang terjadi tapi tidak disertai perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan kontrol yang baik. Kombinasi kejadiannya pun bisa bermacam-macam, ada perencanaan tanpa kontrol atau ada kontrol terhadap sesuatu yang tidak direncanakan. bisa dibayangkan bukan betapa kacaunya sistem seperti itu?

Kondisi seperti di atas biasanya bermula dari rapat yang tidak jelas. Untuk memulai sesuatu biasanya diawali dengan rapat yang idealnya menghasilkan “kontrak” antara pemberi kerja dan penerima kerja. Di sanalah seharusnya jelas apa pekerjaannya, spesifikasinya, tenggat waktunya, PIC-nya, outputnya. Tetapi justru di sinilah masalah bermula. Sering sekali rapat tidak menghasilkan keputusan atau kejelasan sebuah pekerjaan. akibatnya selesai rapat orang pergi dengan persepsi masing-masing tentang siapa PIC-nya, kapan harus memulai pekerjaan dan seterusnya. Dalam konteks pekerjaan yang rutin, biasanya tidak ada target dalam periode tertentu, tidak jelas harus melapor kepada siapa dan seterusnya. Ada asumsi yang sering digunakan yaitu SEHARUSNYA orang sudah tahu. Inilah contoh asumsi yang salah. mengapa? bahkan bagi yang sudah tahu pun, orang masih perlu diingatkan.

Masalah berikutnya dalam pengorganisasian kadang sebuah pekerjaan tidak dibarengi dengan kelengkapannya, diberi kewajiban tanpa kewenangan, diminta berlari tapi kaki diikat. Umumnya terjadi ketersediaan sumber daya tidak dijadikan acuan. Berbeda halnya jika memberikan pekerjaan yang acuannya cukup tinggi (dan tidak jarang volumenya banyak😦 ). Akses terhadap SDM dan Uang kadang sangat terbatas padahal kecepatan dipersyaratkan. Waktu yang tersedia seolah tidak terbatas untuk penyelesaian pekerjaan padahal setiap orang punya alokasi waktu yang proporsional antara pekerjaan, keluarga, istirahat, sosialisasi dan lain sebagainya.

Kepemimpinan tidak kalah signifikan dalam menentukan baik buruknya sebuah pekerjaan. Yang paling utama adalah komitmen dan konsistensi. Tanpa komitmen maka semua yang pernah didiskusikan, direncanakan akan menjadi OMDO alias omong doang. bawahan perlu contoh. Tidak patut jika karyawan tidak boleh terlambat dan si bos boleh. tidak patut karyawan harus memiliki KPI (key performance indicator) dan si bos tidak. pendek kata keadilan perlu ditegakkan dan leader adalah orang yang pertama harus memberi contoh. Begitu pula dengan konsistensi, leader yang tidak konsisten akan merusak ritme kerja tim. Sekali waktu mengatakan A, di lain waktu mengatakan A- atau bahkan B.

Terakhir, sering juga pekerjaan yang sudah direncanakan dengan baik tapi lupa dikontrol. Termasuk dalam hal  ini kita sering merasa cepat puas. Hasil yang dicapai sudah maksimal dan sebagainya. Padahal kontrol dimaksudkan untuk mengecek seberapa jauh implementasi menyimpang dari rencana. bahkan pada kondisi yang minim penyimpangan pun kontrol masih dapat digunakan untuk melihat peluang perbaikan pada hasil yang lebih baik lagi.

Nah tinggal sekarang kita masing-masing bercermin, seberapa baikkah manajemen yang kita terapkan untuk mengelola unit/organisasi yang kita pimpin. Dan jangan lupa untuk mengelola diri yang kita pimpin ini.

 “setiap kamu adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (al hadits)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: