Bahaya Tulisan

Barusan saya mendapat pelajaran berharga. Sebuah kejadian yang biasa saja sebenarnya tapi membuat saya harus berpikir ulang kalau ingin berbuat, khususnya saat mengirimkan email. Kalau dulu pepatah bilang hati-hati dengan bahaya lidah karena tak bertulang, rasanya pantas sekarang kita update pepatah tersebut. Bukan hanya lidah, tapi juga tulisan lewat email kita.

Sejak menjadi kaprodi saya ingin mencoba menggalang kebersamaan, kesamaan bahwa kita semua sama. Hanya posisinya berbeda. Walaupun demikian, dengan fungsi masing-masing kita semua saling mengisi sebagai sebuah sistem. Bukankah mobil tidak akan jalan jika tidak ada setirnya? Satu dari rodanya? Atau ada komponen lainnya yang hilang? Sebuah program pun tidak akan berjalan tanpa kelengkapan semua fungsinya.

Untuk menjalankan hal itu saya coba untuk lebih sering berkomunikasi baik ke “atas” maupun ke “bawah”.  Saya sangat sedih kalau ada teman yang mengatakan “habis dimarahi atasannya”.  Kenapa harus marah-marah? Bisakah kita mengerjakan semuanya tanpa bantuan taman-teman kita? Sungguh berlebihan kalau hidup ini harus dipenuhi dengan amarah. Ada hal lain yang mungkin terjadi. Sebenarnya sang teman tadi tidak dimarahi, Cuma ditegur atau diberi feedback. Tapi tangkapannya seperti dimarahi. Ini pun berlebihan. Dan benarlah ajaran agama yang mengatakan sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Karena keasyikan “berkomunikasi” tampaknya saya kurang memperhatikan “ketajaman” email-email ini. Saya melihat ada fenomena bahwa teman-teman ini merasa ketika mendapat feedback seperti disalahkan. Akibatnya mereka menjadi panik dan berusaha membela diri serta mungkin minta maaf sebelumnya. Padahal tidak sedikit pun terbersit untuk menyalahkan seseorang dengan email feedback saya kecuali untuk mencari solusi agar suatu masalah tidak terjadi lagi. Beberapa kali ini terjadi dan saya “cuek” aja alias merasa biasa saja. Baru pagi tadi saya merasa bersalah telah membuat banyak orang merasa terpojok, mungkin bingung, panik dsb.

Ada yang salah dengan komunikasi ini. Mungkin pola atasan bawahan tidak mungkin dihapuskan, tapi bisakah kita semua bekerja sebagai mitra? Atau benarlah kata seorang teman beberapa tahun yang lalu. Komunikasi lewat email tidak akan sempurna seperti komunikasi langsung dimana kita bisa melihat raut wajahnya, ekspresinya, senyum lawan bicara. Walhasil saya mesti hati-hati dalam hal ini. Astaghfirullahal’azhiim…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: