Sekolah berstandar (mutu nasional)

Belum lama semester ini berjalan, di rumah istri sudah mulai sibuk memikirkan bagaimana kelanjutan sekolah Aan (putra pertama kami) tahun depan. Ya, tahun depan Aan akan masuk SD karena sekarang masih di TK A. Sewaktu digali lebih jauh, ternyata penyebabnya banyak orang tua teman Aan sudah sibuk mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah yang mereka inginkan. Apa sih yang diinginkan orang tua? Biasanya tidak jauh dari sekolah yang bagus alias favorit. Hmmm

Kenapa harus mulai sibuk jika Aan masuk SD tahun depan, sementara tahun ini baru naik ke TK B? Ternyata lagi salah satu SD favorit para orang tua tadi hanya menerima 80% lulusan dari TK mereka sehingga jatah untuk orang luar cuma 20%. Bayangkan betapa kompetitifnya sekolah di tingkat SD saat ini. Soal biaya pun tidak mau kalah dengan biaya di perguruan tinggi, bahkan bisa lebih mahal. Sekolah akan semakin favorit kalau harganya relatif terjangkau (bagi kalangan menengah) dengan mutu yang dipersepsikan baik.

Saya ingat tahun lalu di ASTRO masih diputar film Bidadari yang diperankan marshanda. Film ini film lama tapi diputar kembali, dan Aan senang menontonnya. Kami pikir juga baik karena pesan moralnya cukup kental walau ada saja adegan yang terlalu ekstrim menurut saya. Apa yang saya senangi dalam film tersebut? Si Lala (marshanda) yang menjadi anak orang super kaya itu bersekolah di sekolah “biasa” karena banyak temannya termasuk orang yang super miskin. Makanya Lala sering diceritakan membantu teman-temannya itu, dengan dukungan sang ayah. Apa yang bisa dipetik dari cerita bidadari kecil ini? Ya itu tadi, ternyata orang kaya pun bisa dan mau sekolah di sekolah yang biasa-biasa saja.  Boleh jadi hal itu karena kebesaran jiwa keluarga Lala, atau yang saya harapkan karena keluarga Lala menganggap sekolah “biasa” itu pun bagus kualitasnya.

Walaupun hanya cerita di TV, alangkah indahnya jika konsep semacam ini bisa terwujud. Mau sekolah di manapun, anak kita akan mendapat tingkat pendidikan yang sama. Tidak dibedakan dari besarnya kesanggupan orang tua. Dalam perjalanan ke kampus pagi ini, di tengah kemacetan saya melewati secara perlahan sebuah sekolah dasar. Lahannya cukup luas, tapi saya agak ragu adakah muridnya yang diantar pake mobil seperti SD-SD unggulan favorit. Saya pun termenung berani tidak saya memasukkan Aan ke sekolah itu? Ada keraguan akan mutu sekolahnya. Kalau soal teman, kami justru ingin Aan dapat bergaul dengan siapa saja, bahkan teman-temannya yang tidak seberuntung kami.

Mudah-mudahan ke depan ada perbaikan dalam sistem pendidikan kita sehingga tidak ada lagi perbedaan antara sekolah inpres (dulu banyak rasanya) dengan SD Negeri, SD swasta, SD unggulan, SD internasional dsb. Walau itu memang tidak terhindarkan, paling tidak mutunya tidak jauh-jauh amat. Kalau sudah begini, pengen kembali ke Jepang… Goodluck Aan, semoga sukses, lebih sukses dari ayahnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: