Zaman berbeda dan/atau berbeda zaman

Beberapa weekend terakhir saya terpaksa menghabiskan waktu tidak bersama keluarga. sebuah keputusan yang berat karena kondisi inilah yang pernah saya bayangkan waktu lulus kuliah dulu. Karena tidak ingin hidup begitu ketat dengan jadwal kantor, maka dosen menjadi pilihan utama waktu itu. Tapi sekarang apa yang dihindari itu pun terjadi. Jadi dosen di SBM ini menuntut kita untuk full time, tidak seperti saat saya di departemen sebelumnya atau mungkin sebagian besar departemen/jurusan di perguruan tinggi Indonesia. Tapi bukan berarti saya menyesal. Saya senang bisa masuk dalam lingkungan seperti SBM karena insya Allah hidup kita lebih jelas, tidak menabrak sana sini mencari uang tambahan tanpa ada aturan yang jelas.

Yang membuat saya sedih, waktu saya harus berangkat hari minggu kemarin ke kampus menghadiri training of trainer, istri bilang kepada saya:” Aan tadi pagi tanya, kenapa sih waktu aan libur, ayah nggak libur?” memang sebelumnya Aan juga pernah menyampaikan langsung pada saya:” ayah hari ini libur nggak”? serasa tubuh agak terguncang, mungkin aliran darah jadi berubah. Kalau dulu saya hanya baca kalimat-kalimat seperti ini di koran, majalah, cerita-cerita, sekarang terjadi pada diri saya. Astagfirullahalazhiim…

Memang ada ongkos kalau kita ingin maju. kata para senior, kalau mau mengejar ketertinggalan bangsa kita, maka kita harus bekerja sekian kali lipat dari yang normal. hmmm. spiritnya ok, tapi implementasinya tidak harus kebablasan menurut saya. Ada beberapa komentar yang saya peroleh ketika issu ini saya ungkapkan. Ada yang mengatakan: “lho si fulan itu bekerja dari senin-sabtu, dari pagi sampai malam”. Dalam hati saya kenapa saya harus dibandingkan dengan si fulan. kalau ada yang mau, ya silakan. barangkali si fulan belum punya keluarga, atau belum punya anak/istri. atau apalah dilihat kondisi kita pasti berbeda.

Ada lagi yang bilang:”lho saya juga sering tidak ada di rumah saat weekend”. Dalam hati saya ya pantas lah karena mereka tidak punya anak kecil lagi yang minta diajak main. bahkan mungkin sudah tidak tinggal serumah lagi dengan orang tuanya. Mungkinkah ini karena mereka menganggap zaman ini tidak pernah berubah?  apakah hidup pada 20-30 tahun sama dengan sekarang, walaupun pada profesi yang sama? belum tentu, dan saya yakin tidak sama. Tuntutan hidup berubah, lingkungan sudah berubah, hal ini pastinya akan membuat pola hidup berubah.

Satu hal lagi yang pasti, untuk saat ini, kita berbeda zamannya. mereka mungkin sudah pada posisi menikmati hasil kerja, sementara itu kita masih pada posisi untuk tumbuh, baik secara materi maupun non-materi.  Tapi sensitivitas ini tampaknya lebih suka diabaikan daripada dipertimbangkan. mungkin karena roda perusahaan/organisasi harus terus berjalan, janji sudah telanjur diberikan, program sudah telanjur dicanangkan dan berbagai justifikasi lainnya.

So buat saya dilema  ini harus dinikmati, karena jika tidak maka kita rugi karena dilema ini sudah terjadi (begitu saran aagym). Saya cuma berharap, jika suatu saat berada pada pucuk pimpinan tertentu, saya akan ingat hal ini, biar tidak ada karyawan yang menemui dilema ini, apalagi sampai nulis di blog juga🙂

Gambare!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: