Harga minyak goreng, operasi pasar vs mini market

Tadi pagi saya menyempatkan diri untuk mendengarkan siaran televisi dari salah satu TV Swasta kita. berita yang cukup hangat adalah harga-harga yang kian meroket. Harga cabe bisa naik 100%, bahkan di daerah semarang yang biasanya harganya cukup rendah. Yang cukup banyak diberitakan juga adalah kisruhnya penjualan minyak goreng operasi pasar di beberapa daerah, termasuk daerah yang dikunjungi ibu menteri mari pangestu.

Sebenarnya bukan hal aneh kalau di Indonesia terjadi kisruh saat pembagian/penjualan barang dengan harga “murah” seperti ini. Lihatlah pembagian BLT, zakat perorangan, minyak tanah, hampir semuanya kisruh. Entah karena pasokannya yang sedikit, penyaluran kuponnya yang tidak tepat, pengaturan yang tidak rapi, sampai mental orang kebanyakan kita yang sangat rakus. Begitu kisruhnya biasanya sampai ada yang pingsan, kehilangan anak, entah mungkin ada juga yang meninggal. ya seperti inilah potret bangsa ini.

Kembali ke soal harga tadi, diberitakan di semarang harga operasi pasar adalah Rp 8000 per liter, sedangkan di surabaya Rp 9000 per liter. Kalau dilihat dari tayangan televisi, minyak yang di surabaya masih lumayan karena minyaknya dalam kemasan, bukan minyak curah. Tapi minyak operasi pasar di semarang ternyata minyak curah. Masyarakat banyak yang kecewa dengan operasi pasar ini. Ada yang sudah menunggu berjam-jam bahkan.

Saya kemudian hanya bersyukur karena tidak harus mengalami hal seperti itu. Tapi saya juga heran betapa harga operasi pasar ternyata tidak signifikan untuk membantu masyarakat kecil. Tiap minggu saya belanja di Giant atau mini market dekat rumah untuk kebutuhan mingguan. Harga 2 liter minyak dalam kemasan (kadang Filma, Sunco, atau merk lainnya) sekitar Rp 18000 alias Rp 9000 per liter. Memang ada persyaratan, kita harus belanja minimal 100 ribu di Giant. Tapi di mini market dekat rumah, limit belanja untuk mendapatkan harga murah itu cukup Rp 15000. Jadi kesimpulan gampangan saya mengatakan harga minyak operasi pasar ini jelas tidak menguntungkan.

Mungkin sebagian besar masyarakat kecil tidak pernah (segan) belanja di bla-bla-bla market karena sudah menyangka pasti harganya mahal dibandingkan harga di pasar tradisional. Mungkin juga mereka sudah tahu tapi tidak kuasa untuk membelanjakan uang walau Rp 15000. Kalau sudah yang terakhir ini, Astaghfirullah, mohon ampun ya Allah kalau saya masih belanja untuk hal-hal yang bukan primer lagi. Mohon ampun juga atas kelalaian para pemimpin kami yang belum mampu mengatasi masalah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: