Masih adakah (pola pikir) PKI saat ini?

Judul ini mungkin terlalu ekstrim, tapi kalau tidak ekstrim rasanya sulit kita bisa mendapat perhatian. Makin hari makin banyak saja orang melakukan apa yang mereka mau lalukan tanpa mengindahkan hak orang lain. Bahasa gampangnya, menghalalkan segala cara. Walaupun saya tidak paham sepenuhnya ideologi pki, tapi rasanya kalau disebut menghalalkan segala cara maka itulah pola pikir pki. Tentu saja kita tidak ingin pola pikir seperti ini menjadi keumuman pada masyarakat. Jelas dari sudut pandang mana pun, pola pikir semacam ini tidak pantas dibiarkan berkembang.

Tapi tengoklah apa yang terjadi saat ini. Cara berpikir semacam ini sudah menjadi biasa. Satu hal yang paling gres di mata saya adalah soal pembuatan “polisi tidur” di jalan umum. Pagi ini saya melewati perumahan dosen unpad di cigadung ke tubagus ismail. Di sana separuh jalan ditutup sementara karena polisi tidurnya belum kering. Sebelumnya polisi tidur sejenis (lebih kecil dari polisi tidur yang biasa, tapi dibuat 3 gundukan berurutan) sudah dibuat di cigadung raya barat, jalan menuju dago pakar. Saya tidak tahu apakah desain semacam ini sudah melewati kajian yang benar atau belum, yang jelas bagi saya terasa tidak nyaman melewati jenis polisi tidur semacam ini. Berbeda dengan kalau di jalan tol ada gundukan kecil tapi cukup jarang.

Mungkin penduduk setempat merasa terganggu dengan banyaknya pengendara motor yang ngebut dan mengeluarkan bunyi yang terlalu keras. Tapi cara mereka bereaksi telah mengganggu orang lain (paling tidak saya lah) dalam berkendaraan. Simple memang, tapi inilah wujud melakukan segala cara untuk memenuhi keinginan. Bukan saya membela pengendara motor yang ngebut tadi, tapi solusinya yang menurut saya tidak tepat. Si pengendara motor tadi, ya jelas, ybs telah melakukan cara pki tadi lebih awal untuk menggambarkan kesalahannya jauh lebih berat.

Kasus lain yang masih hangat, sejumlah oknum pengendara motor gede masuk ke jalan tol. Sudah jelas aturannya saja masih dilanggar, apalagi yang tidak tertulis. Sering saya mengalami juga harus terpinggirkan di jalan ketika oknum-oknum ini lewat. Tidak perlu analisis mendalam untuk menjatuhkan vonis kepada mereka ini.

Di jalan-jalan umum pun, ada jalan yang dipasangi portal ketika jam tertentu. Waduh, hebatnya orang-orang ini. Demi keamanannya, jalan ditutup sehingga orang harus memutar karena tidak bisa lewat. Praktis mudah sekali menemui bentuk-bentuk tindakan menghalalkan segala cara ini. Apalagi kalau sudah terkait dengan politik, wah gelap dah dunia ini.

Dalam ajaran islam, rasanya (maaf saya tidak menguasai dalil-dalilnya) untuk menjaga ketenangan tetangga saja menjadi perhatian. Jangan sampai lidah, tangan, tindakan kita mengganggu orang lain. Seharusnya ini yang perlu dikembangkan, bukan sebaliknya. Mari kita duduk, berpikir, mencari setiap solusi dari permasalahan yang dihadapi. Sudah di luar kepala, ada dimana-mana istilah win-win solution, tapi tampaknya masih jarang kita cari. Jauh lebih mudah mengatakan memang dari melakukan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: