Mengingat Mati

Bagi pelanggan TV kabel atau sejenis mungkin channel celestial movie kurang menarik dibandingkan dengan channel movie lainnya. Tapi beberapa kali saya jumpai film jepang yang diputarkan di saluran ini cukup membuat saya berpikir. Dari pengalaman menonton film-film drama jepang baik waktu saya di hiroshima maupun di saluran celestial ini, ada benang merah yang cukup jelas. Dua hal yang seringkali membuat saya tersentuh ketika menonton film drama jepang, pertama karena sarat nilai kemanusiaan. Cerita perjuangan hidup adalah tema sentral menurut saya. Ada yang menggambarkan perjuangan murid untuk berubah, banyak yang menggambarkan perjuangan seorang guru, perjuangan orang jatuh bangun mendirikan restoran, perjuangan orang cacat untuk bertahan hidup, dan lain cerita yang menggambarkan kisah perjuangan manusia.

Tema sentral kedua yang membuat saya tersentuh adalah tema tentang kematian. Boleh jadi menurut orang lain film yang saya tonton tidak lebih dari film yang diakhiri dengan kematian sebagai pilihan ending selain sebuah kegembiraan. Tapi entah kenapa saya melihatnya agak berbeda. Suatu film menceritakan seorang guru yang hidup sendiri divonis mati karena penyakit yang dideritanya. Awalnya memang berat baginya, apalagi tidak ada orang yang dekat dengannya. Sampai-sampai pernah terucap “dame desuka?” (baca: tidak bolehkah saya hidup lebih lama?) oleh sang guru tersebut sambil menatap ke atas di tengah kesendiriannya. Sepengetahuan saya, orang jepang umumnya tidak beragama, tapi ada saatnya mereka menyadari bahwa ada Tuhan di sana yang menetapkan akhir dari perjalanan hidup manusia di bumi ini.

Di kisah yang lain, seorang pemuda yang cacat dirawat dengan penuh perhatian oleh seorang perawat. Walaupun begitu kuat perjuangannya, sang ajal tidak dapat ditolak. Tapi di film tersebut diceritakan bahwa sang pemuda hadir kembali untuk menyatakan terima kasihnya kepada perawat yang tidak sempat dia haturkan sebelum meninggal. Jadilah ceritanya seperti film Ghost (demi moore dan Patrick swayze), arwah pemuda tadi bisa “pergi” dengan tenang setelah tahu perawat tadi menangkap sinyalnya bahwa dia ingin berterima kasih. Tampaknya ada keinginan orang jepang untuk mendalami ada apa setelah kematian. Walaupun secara lahir mereka mengatakan tidak ada Tuhan, tapi akhir dari hidup menyisakan harapan atau ketakutan tertentu.

Yang jelas, dari beberapa film yang saya tonton, kematian dihadirkan dengan begitu jelas. Tidak ada kuasa yang bisa menghentikan datangnya kematian. Kesedihan selalu menyertai kematian, inilah yang tampak dari berbagai film tadi. Akan berbeda seharusnya jika seorang muslim memaknainya. Perpisahan dengan dunia, orang yang kita cintai, tidaklah harus berakhir dengan kesedihan. Kesedihan hanyalah perasaan sesaat karena semestinya kematian menjadi awal kehidupan yang sebenarnya menuju pertemuan dengan sang Khalik. Kadang saya merenung, bisakah saya meninggalkan dunia ini dengan tenang, bahkan senang karena perpisahan dengan anak, istri, orang tua dan semua orang yang saya cintai diganti dengan pertemuan dengan pemilik kita yang sebenarnya. Persoalannya tinggal seberapa banyak bekal yang sudah kita siapkan agar kematian datang bukan menjadi akhir yang menyedihkan, na’udzubillah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: