Belajar menghargai lewat mendengar

Sudah cukup sering saya mendengar banyak complaint dilayangkan pada dosen ataupun tutor yang mengajar di SBM. Banyak memang yang harus kita perbaiki agar proses pembelajaran menjadi lebih baik. Complaint atau tepatnya feedback tadi memang relevan sekali sebagai cermin jika kita ingin memperbaiki diri. Ini adalah prinsip utama. Sepahit apa pun isinya, benar atau salah, harus diterima dulu dengan lapang dada. Tapi kali ini saya tidak ingin mengomentari hal ini karena tinggal dijalankan saja (walaupun ini yang paling berat).

Ada sisi lain yang perlu juga dicermati. Dari pengalaman beberapa kali saya mengajar, terlepas saya memang belum menjadi penyampai yang baik, cukup banyak mahasiswa tidak siap untuk belajar. Baik belajar dalam sesungguhnya, belum membaca buku pegangan sama sekali, ataupun belajar dalam pengertian yang lebih luas. Yang belakangan ini bukan penyakit mahasiswa saja, banyak orang yang berada dalam satu ruangan tidak menghargai orang lain yang sedang berbicara. Kelihatannya tampak sepele, tapi dari sinilah kita belajar bahwa mendengar itu lebih sulit daripada berbicara. Jika di dalam kelas saja – dosen memberikan materi – tidak dihargai, bagaimana halnya dengan dalam rapat yang kita tidak terlibat sepenuhnya? Begitu pula dalam mendengarkan ceramah umum, pidato dsb?

Mungkin kita sering menganggap orang yang berbicara tidak/kurang kompeten. Tapi hal ini tidak tepat jika dijadikan pembenaran untuk tidak mendengarkan, apalagi berbicara dengan orang lain pada saat yang bersamaan. Jauh lebih elegan kita keluar dengan izin dan tidak kembali daripada merusak komunikasi dalam suatu kelas/rapat. Kondisi ini akan lebih buruk jika asumsi kita tadi bahwa orang yang berbicara tidak kompeten adalah salah. Hanya karena tidak suka atau alasan lainnya kita mengabaikan apa yang disampaikan orang. Belajar mendengar orang lain boleh jadi skill yang perlu bahkan wajib dimiliki calon pemimpin. Dan kelas adalah tempat yang baik untuk memulai.

Belakangan mulai ada mahasiswa yang masuk ruang kelas saja sudah menggunakan earphone sambil membawa pemutar musik digital. Ini jelas dari awal memang sudah tidak ingin mendengar orang lain. Masuk kelas hanya sekedar memenuhi daftar hadir bagi saya tidak lebih baik dari yang tidak hadir karena malas. Dengan memasang sesuatu di telinga (barangkali dianggap keren kali ya L ) kita sudah menyatakan bahwa saya tidak ingin mendengar hal lain selain yang masuk dari music player. Kelakukan semacam ini tidak patut dibudayakan di kampus, di mana orang-orang terdidik belajar, belajar apa saja termasuk menghargai orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: