Accredited or Be Different

Masih terekam dengan jelas pembicaraan rapat beberapa hari yang lalu. Karena mendengar komentar seorang praktisi terhadap apa yang SBM jalani saat ini, muncul pandangan baru bahwa mengharapkan akreditasi internasional tidak akan membawa SBM ke mana-mana. Banyak universitas yang sudah terakreditasi secara internasional, jika SBM berhasil maka hanya akan menjadi salah satu dari universitas tersebut. Jika ingin mengejar top ten di Asean, dan ternyata berhasil, maka ya sudah kita akan menjadi salah satu dari top ten biz school di Asean. begitulah kira-kira pandangan baru tadi. Mengapa tidak menggunakan konsep Be Different? dengan itu sampai kapan pun kita akan punya usaha untuk menjadi berbeda.

Wow… Kaget juga saya menyadari sebuah komentar yang boleh jadi muncul seketika menjadi pandangan tandingan terhadap apa yang selama ini sudah disepakati. Sebenarnya konsepnya sangat bagus. Memacu kita untuk terus berubah, melakukan inovasi, dan mencari hal-hal baru. Tapi ada yang kurang pas jika diterapkan begitu saja di SBM saat ini.

Pertama, mengubah kesepakatan dengan pikiran sesaat bukan merupakan sesuatu yang bijak. Motivasi tim akan terganggu dan jika hal semacam ini sering dilakukan maka semangat bekerja dan kepercayaan terhadap pimpinan akan menurun. Hal semacam ini jelas berbahaya bagi kelangsungan proses membangun institusi.

Kedua, Mengejar akreditasi bagi saya pada dasarnya bukan persoalan utama. Memiliki acuan dalam proses pengembangan sistem jauh lebih esensial. Akreditasi menyediakan kerangka kerja dan roadmap untuk pengembangan institusi di masa depan. kalaupun pada saat yang ditentukan belum tercapai, tidak ada masalah. Memang judulnya jadi salah (accredited), tapi tidak mengapa jika digunakan secara benar. Saya yakin akreditasi internasional tidak bisa dibeli (terlalu riskan) layaknya akreditasi-akreditasi-an di negeri dongeng.

ketiga, menjadi berbeda akan berdampak besar jika pondasinya kuat. Dengan akar (budaya, sistem, value) yang kuat, menjadi berbeda akan memperkaya apa yang dimiliki. Jika tidak, menjadi berbeda hanya akan membuat kita berpindah dari satu status ke status yang lain.

Alhamdulillah, walaupun pemikiran ini mendapat perhatian khusus, proses pengembangan rencana strategis mengacu pada EQUIS tetap dijalankan. Insya Allah ada saatnya nanti kita menjadi berbeda, dalam pengertian yang positif tentunya… 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: