Standar proses pendidikan tinggi

Setelah melihat lebih jauh pada aspek standar dan kriteria EQUIS (European Quality Improvement System – akreditasi internasional untuk sekolah bisnis berbasis di Eropa), saya makin yakin bahwa pengembangan standar proses bisnis perlu menjadi perhatian serius. Ketika menelusuri item demi item dari program (chapter 2 programmes) dan mahasiswa (chapter 3 students), tidak semua komponen menyatakan secara eksplisit tentang proses. Sebagian besar bahkan lebih cenderung menyatakan output yang diharapkan. Sebenarnya wajar juga karena akreditasi memang lebih pada bagaimana pihak luar memotret kondisi suatu sekolah/fakultas/universitas.

Jika dibandingkan dengan akreditasi institusi yang baru diluncurkan 2007 oleh BAN-PT (15 aspek), jelas EQUIS (10 aspek) jauh lebih komprehensif. Jadi wajar sekali jika beberapa perguruan tinggi yang sudah mendapat akreditasi A pun belum berarti apa-apa di level internasional. Boleh jadi banyak pihak merasa buat apa memikirkan akreditasi internasional, sementara akreditasi nasional pun belum atau belum seperti yang diharapkan. Menurut hemat saya, pemikiran semacam ini akan membuat kita selalu di belakang karena kita tidak akan pernah membuat lompatan besar untuk mengejar ketertinggalan. Akan jauh lebih efektif, jika upaya yang dikeluarkan untuk meraih akreditasi ditujukan untuk kelas yang lebih tinggi. sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Kembali ke pokok persoalan, baik standar dan kriteria EQUIS maupun akreditasi institusi BAN-PT tidak banyak menyinggung proses. tampaknya pengembangan proses diserahkan pada masing-masing institusi. Dari kaca mata yang mengakreditasi memang tidak ada masalah. Tetapi dari kacamata universitas/fakultas, ketidakseragaman proses untuk mencapai output yang disyaratkan boleh jadi akan menghabiskan banyak resources. Jika kemudian universitas menyerahkan pengembangan proses diserahkan pada jurusan/program studi, maka di setiap jurusan ada sekelompok orang mengerjakan hal yang sama dalam banyak hal kecuali beberapa kekhususan. Maka secara nasional kita sudah menghambur-hamburkan banyak resources untuk hal yang sebenarnya dapat dihemat.

Standar proses bisnis pendidikan tinggi tidak berarti semua perguruan tinggi akan menjadi sama, seragam. Sebagaimana standar proses bisnis di beberapa industri (SCOR, eTOM) standar proses yang dihasilkan akan sama sampai level tertentu (level ke-3 atau ke-4). Untuk level berikutnya baru diserahkan pada masing-masing sekolah/institusi untuk mengembangkannya sesuai dengan konteksnya masing-masing. Ya sebenarnya ini menjalankan konsep push-pull dan posponement dalam supply chain management untuk mempercepat lead time dengan variasi produk yang banyak.

Saya dan seorang mahasiswa S2 sedang membuat model standar ini, sedangkan dengan mahasiswa S1 sedang mencoba membuat proses yang lebih detail. Barangkali ada yang sudah menghasilkan, senang sekali jika kami mendapat share pengalamannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: