Catatan dari Enclave Cikoneng

\Sabtu pagi saya berangkat ke lokasi ekskursi mahasiswa SBM di sekitar Puncak. Setelah sampai di penginapan dan koordinasi dengan teman-teman di sana, saya segera berangkat dengan rombongan kecil untuk melihat ke lokasi-lokasi mahasiswa. Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah suatu enclave (masyarakat pemetik teh di tengah perkebunan). Ada 3 blok masyarakat sebenarnya di sana: Cibulao, Cikoneng, dan Rawa Ageung. Mahasiswa tinggal di Cibulao, tapi mereka juga survei di Cikoneng. Karena itu saya dan rombongan pergi juga ke Cikoneng setelah mampir sebentar di Cibulao.

Sesampainya di sana, saya dapati mahasiswa sedang mengajar anak-anak SD di sana. Mereka bercampur jadi satu mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Beruntung mahasiswa pandai mengajak bermain anak-anak tersebut. Ada yang maju untuk bernyanyi diikuti tepuk tangan dari teman-teman di bangkunya masing-masing. Mereka melipat burung kertas (tsuru) dengan kertas origami yang diberikan Pak Rudi, Kepala sekolah SD tersebut. “senang nggak kakak ada di sini?” begitu tanya salah seorang mahasiswa. Spontan mereka menjawab “senang….”. Sungguh suatu pemandangan yang mengharukan. Belum bicara dengan mahasiswa pun, mata saya sudah berkaca-kaca. Begitu semangat mereka belajar walaupun fasilitas sekolah itu sangat terbatas.

Yang membuat saya semakin terenyuh, saat mahasiswa meminta mereka menuliskan cita-citanya. Hampir 50% mengatakan ingin jadi dokter. Alasan utamanya sangat sederhana. Orang tua mereka banyak yang sakit-sakitan, sementara biaya berobat sangat terbatas. Akses kesehatan cukup bermasalah bagi mereka selain akses pendidikan. Cita-cita yang sangat mulia. Terlepas dari kondisi yang dihadapi, mereka masih bercita-cita setinggi langit. Semangat untuk sekolah ini diperkuat oleh Pak Rudi, yang sengaja meminta siapa pun (terutama mahasiswa) yang datang ke sana untuk berbaur dengan anak-anak SD itu agar mereka terbuka wawasannya.

Saat bicara dengan Pak Rudi, hati ini semakin kecut. Dari 8 orang guru, beliaulah satu-satunya guru yang tinggal di Cikoneng. Guru yang lain datang dan pergi untuk mengajar di Cikoneng. Jika ada guru yang berhalangan, maka Pak Rudilah yang menggantikannya untuk mengajar. Ketika saya tanya penghasilan masyarakat di sana, Pak Rudi menjelaskan penghasilan masyarakat sebagai buruh pemetik teh sekitar 172 ribu per 2 minggu, atau 340 ribuan per bulan. Bayangkan bagaimana mereka bisa hidup layak dengan penghasilan seperti itu? Pak Rudi sendiri mengatakan gajinya lebih rendah dari orang tua murid-muridnya, yaitu sekitar 302 atau 320 ribu per bulan kalau saya tidak salah dengar. Masya Allah, jumlah yang kadang kita hamburkan begitu saja jika sedang makan di restoran.

Jadilah pembicaraan singkat di Cikoneng itu curhatnya Pak Rudi tentang kondisi masyarakat di sana. Biasanya saya malas mendengar orang yang berkeluh kesah soal hidupnya yang sulit. Tapi kemarin itu sangat lain. Sebuah curhat yang wajar dan sangat tidak berlebihan jika Pak Rudi menyampaikan uneg-unegnya. Kita saja masih sering berkeluhkesah walau sambil berkelakar tentang “kecilnya” gaji kita. Astaghfirullah, sungguh tindakan yang tidak bersyukur jika melihat kondisi di Cikoneng. Hidup tanpa listrik, tanpa alternatif penghasilan, tapi tetap bersahaja. Saya senang sekali ketika seorang mahasiswa berkata: “Pak saya ingin kembali ke sini lagi”. Tanpa perlu penjelasan, rasanya kita semua di sana sepakat suatu waktu perlu ada yang turun tangan membantu masyarakat Cikoneng dan enclave di sana. Desa yang tak jauh dari keramaian weekend di sekitar puncak, dimana orang menghabiskan sebagian uangnya untuk berlibur…

Thanks pak Rudi untuk mengingatkan saya agar selalu bersyukur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: