KPI: diharap tapi dijauhi

Kalau ada orang yang mengatakan semua masalah kita ini bermuara pada masalah politik, rasanya saya sudah mulai mengaminkannya. Minim sekali contoh dimana orang atau sekelompok orang bergerak atas niat yang tulus (ikhlas). Hampir di banyak kasus, ujungnya adalah apa manfaatnya buat saya atau kita. Saya khawatir persoalan semacam ini juga sudah menggejala di kalangan akademis. situasinya akan seperti ini: Saya akan berbuat kalau sesuatu bermanfaat buat saya atau tidak merugikan saya. Jika merugikan kita (misalnya dengan penambahan beban) atau (lebih jahat lagi) bermanfaat buat orang, kita tidak mau berbuat.

Ada hal yang bisa membentengi kita dari kelakuan seperti itu, yaitu KPI (Key Performance Indicator). Seseorang tidak bisa menyalahkan orang lain sembarangan, tidak bisa menonjolkan diri sembarangan, tidak bisa menghindari diri dari tanggung jawab seenaknya jika dalam organisasi ada ukuran untuk setiap aktivitas. Seperti biasa, saya lebih senang menyebut aktivitas ini sebagai proses bisnis.

Sayang beribu sayang, KPI ini kadang dipraktekkan secara serampangan juga. Tidak jarang manajemen puncak hanya meminta bawahannya untuk memenuhi KPI-nya. ini jelas sesuatu yang tidak fair jika hanya sepihak. Mengapa? karena idealnya KPI bawahan diturunkan dari KPI atasan, lebih tepatnya KPI dari proses yang lebih besar, mencakup keseluruhan organisasi. Hanya dengan demikian kontribusi masing-masing individu dapat diukur terhadap pencapaian tujuan organisasi. Ketidakadilan ini akan bertambah parah, menjadi sebuah kesalahan, jika KPI atasan tidak ada.

Satu hal mendasar yang sering dilupakan orang adalah KPI tidak diturunkan dari langit. KPI tidak datang dari lisan seorang pimpinan. KPI diturunkan dari visi organisasi. Visi yang dirinci dengan proses bisnis akan menjadi landasan menetapkan KPI. Secara ideal namun sederhana, KPI melekat pada proses. Ada proses, maka ada KPI-nya. Terserah siapa yang melakukan suatu proses, orang tersebut harus memenuhi KPI yang telah ditetapkan.

Jika dijalankan dengan konsisten, keberadaan KPI jelas sangat membantu organisasi, terutama para pimpinan. Mereka cukup memantau progress organisasi dari dashboard yang berisi KPI-KPI global. Tapi itu tadi ternyata walau disukai keberadaannya, untuk mengerjakannya banyak pimpinan menjauhinya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: