Sempit

Ternyata dunia yang sedemikian luas ini masih tak terlalu luas. Buktinya kita sering berjumpa dengan orang lain yang ternyata masih ada hubungannya dengan kita juga. “sempit ya dunia ini”, kira-kira begitu orang sering mengucapkannya. Bukti dunia ini sempit yang lain adalah banyaknya orang yang tidak mendapatkan pekerjaan seolah jatah pekerjaan ini jauh lebih sedikit dari jumlah orang yang membutuhkannya. Kalimat terakhir ini silakan ditanggapi serius ataupun tidak, ya setidaknya sebagai sindiran betapa kita sering menilai rendah suatu pekerjaan.

Dalam sebuah obrolan ringan tapi serius, sekelompok orang membicarakan keinginan mereka untuk memiliki penjaga keamanan (SATPAM gitu…). Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, mereka ingin sekali komplek perumahannya dijaga SATPAM selama 24 jam 7 hari seminggu. Tidak sulit menyimpulkan dari obrolan itu bahwa keberadaan SATPAM menjadi sangat vital. Oleh karenanya sudah sepatutnya jabatan atau pekerjaan ini menjadi sangat bernilai. Apalagi jika kita lihat hampir tidak ada lagi orang yang mau untuk berkeliling melakukan ronda secara bergantian. Terlalu sayang untuk melewatkan malam tanpa istirahat. Jadi mestinya pekerjaan yang dilimpahkan pada SATPAM merupakan pekerjaan dengan tanggung jawab besar dan cukup mahal karena senilai dengan pengganti istirahat malam kita.

Tapi apa yang terjadi? alih-alih memberikan penghargaan yang besar pada SATPAM atau penjaga malam, kita lebih suka menggunakan dalih macam-macam untuk tidak menghargai mereka dengan selayaknya. Coba kita tanya berapa gaji para SATPAM sebulan? ternyata tidak melebihi UMR!!! ada yang 450 ribu sebulan (8 jam per hari), ada yang 500-600 ribu (12 jam per hari). Angka ini jelas tidak menggambarkan penghargaan kita pada pekerjaan penting ini. Jika ada yang sudah mulai ingin menaikkan angka ini, keluar lah dalih “Jangan sampai kita merusak harga pasar, karena mereka memang dibayar segitu. Nanti yang lain pada protes”. Saya berharap dalih itu memang benar-benar mendasar, karena kalau tidak, pada dasarnya mungkin kita sudah berbuat zhalim pada SATPAM ini.

Tidakkah ada keinginan memperbaiki “harga pasar ” yang memang sudah rusak itu? Bukankah seharusnya harga pasar itu kita “revisi”. Coba saja, maukah Anda berjaga malam dan siang untuk 500 ribu sebulan? kalau jawabannya tidak, maka apapun alasan yang kita buat untuk menetapkan besaran gaji adalah semata2 karena kelemahan posisi calon SATPAM. Begitu sempitnya lapangan pekerjaan, berapapun gaji yang ditawarkan terpaksa diterima. Astaghfirullahal’azhim. Tidak cukup relevan hukum supply dan demand diterapkan dalam urusan kemanusiaan.

Kalau sudah begitu, persoalan sempitnya lapangan pekerjaan sudah tidak begitu penting dibicarakan. Yang lebih perlu menjadi perhatian adalah sempitnya hati dan jiwa kita ini. Kita tidak mampu berlapang hati dengan gaji yang kita terima selama ini. Kita belum bisa berlapang jiwa melihat para SATPAM bergaji sedikit lebih baik (walaupun masih jauh dari layak). Mungkin pikiran dan rasa seperti ini pulalah yang kita gunakan melihat para guru, polisi, petugas pelayanan umum. “Kalau loe nggak mau, masih banyak tuh yang mau digaji segitu…”

Ampuni kami ya Rabbi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: