Empowerment?

Rasanya tidak ada orang yang tidak tahu tentang kata yang satu ini. Bahkan kata ini sudah masuk pada nama sebuah kementerian. Ya, kita semua mengakui bahwa pemberdayaan lebih baik dari sekedar memberi dukungan. Tapi dalam prakteknya apakah pemberdayaan ini efektif?

Logikanya, pemberdayaan dilakukan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih bawah. Lebih mudahnya lagi kepada orang yang tidak berdaya, karena sebenarnya tidak semua bawahan itu tidak berdaya. Justru kadang-kadang ketidakberdayaan dibuat sendiri oleh sang atasan untuk melanggengkan kekuasaannya. Mungkin contoh di republik ini sudah cukup banyak untuk itu.

Di era global seperti sekarang ini tentu saja tidak ada atasan yang mau disebut tidak melakukan pemberdayaan. Statement, tagline, moto atau apapun yang bisa dijadikan corong publikasi akan digunakan untuk menonjolkan bahwa kita melakukan pemberdayaan. Tapi persoalan muncul ketika organisasi yang mencanangkan pemberdayaan ini tidak kunjung sukses. Bahkan boleh jadi gerundelan ada di mana-mana, sikap kerja menurun, atau yang ekstrim mungkin saja banyak yang stress sampai sakit. Pasti ada yang salah dong ya…

Mengacu pada ajaran islam, semua bermula dari niat. kalau niatnya baik, maka besar kemungkinan hasilnya baik. Jadi kalau memakai teori ini, kalau implementasi pemberdayaan tidak kunjung baik, tanyalah niatnya. apakah benar sang atasan ingin bawahannya lebih berdaya? relakah sang atasan jika ternyata bawahan menjadi lebih baik dari dirinya? kalau tidak maka pemberdayaan hanyalah basa basi di tengah upaya mencari popularitas. tidak sulit menilai keikhlasan atasan dalam hal ini karena bagaimanapun wujud dari apa yang ada di hati akan tampak juga keluar. jika pemberdayaan tidak dilengkapi dengan sikap suportif, otoritas dalam pengambilan keputusan, besar kemungkinan sang atasan secara sengaja memang tidak menginginkannya.

Ada hal lain yang mungkin terjadi. Niat sudah ok, tapi caranya keliru ya salah juga. misalnya kita memberdayakan orang secara tiba-tiba. Bisa jadi karena otoritasnya berubah luar biasa, orang akan cenderung menjadi over-acting, euphoria. Atau otoritas diberikan kepada siapa saja tanpa melihat kemampuannya, wah bisa berabe juga. Jadi niat yang baik tadi juga perlu dijalankan dengan baik. Bertahap menjadi kunci keberhasilan. Evaluasi terhadap implementasinya pun memegang peranan penting untuk meneruskan proses pemberdayaan atau sebaiknya diatur kembali (re-arrange).

Semoga semua upaya pemberdayaan di bumi Indonesia ini mengarah pada hal yang positif. Amin.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: