Gali Terus (Lagi dan Lagi)

Di Bandung ini rasanya tidak habis-habisnya pengerjaan gali lubang tutup lubang. Baru-baru ini jalan di tubagus ismail kembali di gali untuk ditanami entah kabel apalagi. Tidak ada informasi sedikit pun tentang pekerjaan tersebut. Yang ada hanyalah kemacetan yang ditimbulkannya. Lagi-lagi hal semacam ini menjadi bukti betapa keinginan sekelompok orang atau perusahaan seringkali mengabaikan hak orang lain.

Kejadian semacam ini sudah berulangkali terjadi. Saya tidak tahu apakah prosedur yang dijalankan dalam penggalian tersebut sudah benar atau belum. Kalau sudah berarti ada yang belum baik dalam prosedur itu. Mengapa demikian? karena masyarakat diabaikan. Jangankan pelayanan agar masyarakat tidak menderita kemacetan, informasi pun tidak diberi tahu.

Masih ada dalam memori saya, sewaktu di Jepang, jika ada pekerjaan (perbaikan listrik, pembangunan gedung, perbaikan jalan dsb) yang sekiranya mengganggu pengguna jalan, ada orang yang bertugas mengatur lalu lintas di sekitar pekerjaan tersebut. Bahkan pernah saya alami gara-gara ingin memperbaiki jalan di sekitar kampus, mereka membuat jalan baru yang bersifat sementara. Setelah proyek itu selesai, jalan sementara itu ditutup kembali. Memang apa yang terjadi di negeri seberang, apalagi Jepang, tidak layak dibandingkan dengan negeri tercinta ini. Tapi catatan itu hanyalah bukti bahwa praktek yang tetap memperhatikan hak masyarakat umum ketika sebuah proyek dikerjakan itu ada dan sudah banyak dilakukan.

Karena tidak tahu tadi, saya tidak tahu siapa yang punya pekerjaan di jalan tubagus tadi. biasanya mereka tidak jauh dari pemasangan kabel telpon atau fiber optic barangkali. Kalau gorong-gorong untuk saluran air rasanya terlalu mewah kota bandung ini punya saluran di bawah tanah. Terlepas dari siapa ownernya, rasanya tidak mungkin pekerjaan semacam itu dilakukan oleh pengusaha kecil seperti pedagang kaki lima yang seringkali mengabaikan ketertiban (wajar sih kalau mereka begitu). Apalagi kalau ternyata dimiliki/dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia ini, sungguh merupakan kenyataan yang pahit.

Sudah selayaknya perusahaan besar atau manajemen gali-menggali ini memperhatikan hak masyarakat. Planning bukanlah pekerjaan mahal. Apakah tidak ada rencana 5 tahun atau 10 tahun mendatang, di mana titik-titik layanan harus diberikan. Bahasa indahnya masa tidak punya master plan? Akibat tidak punya planning ini ya begitu terus: Gali dan gali. Bukankah sudah menjadi rahasia umum jalan di Bandung ini termasuk yang berkualitas buruk. JIka yang sudah begitu pun digali terus tanpa diperbaiki seperti sebelumnya, atau bahkan mungkin dibiarkan begitu saja, ya mau dibilang apalagi. Memang baru segitulah mental pelayanan kita. Keuntungan hanya untuk diri kita, bukan keuntungan buat semua. Win-win solution, kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, itu semua memang masih menjadi omong kosong di siang bolong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: