Konsultan Pinjam Nama

Rasanya sudah menjadi rahasia umum sebagian besar organisasi/perusahaan yang menggunakan konsultan untuk mengerjakan proyek adalah sekedar meminjam nama. “Sebenarnya kami sudah tahu solusinya, tapi kalau kami yang bicara, pasti tidak didengar. Nah kalau konsultan yang ngomong, pasti didengar…”. Kira-kira begitulah ucapan yang sering saya dengar.

Ternyata ucapan-ucapan itu banyak benarnya. Bukan karena saya dulu tidak percaya, tapi karena sekarang saya mengalaminya. Kalau dulu saya sering menjadi konsultan di beberapa perusahaan, sekarang posisinya berbeda, saya berada pada organisasi yang membutuhkan konsultan. Tahu kenapa kita butuh konsultan? jawaban idealnya karena kita belum berpengalaman (tidak kompeten) mengerjakan proyek yang sedang dihadapi. Tapi ada juga jawaban lain yaitu bahwa orang dalam tidak punya waktu untuk mengerjakannya, lagipula kalau orang luar yang melihat biasanya bisa lebih netral. Tapi apa benar demikian?

Jika hipotesa pertama yang mengatakan konsultan lebih sering dipinjam namanya itu benar maka jawaban mengapa kita butuh konsultan adalah jawaban basa-basi. Tapi jika kita punya kompetensi tapi tidak punya waktu, wajarkah kita menggunakan konsultan? bukankah konsultan dihargai karena kompetensinya? Kelihatannya fenomena semacam ini lebih dominan dibanding kondisi normal dimana kompetensi tidak ada sehingga kita sewa konsultan.

Khusus di perguruan tinggi, yang konon katanya konsultan dari perguruan tinggi makin redup sinarnya, ada beberapa hal yang perlu dicermati jika ingin menggunakan jasa konsultan untuk memperbaiki diri:

– Memberikan pekerjaan kepada konsultan dengan alasan tidak ada waktu akan menjadi bumerang. Kalau memang kita mengaku sebagai ahli, seharusnya untuk menerapkannya tidak perlu waktu yang lama. Paling tidak kita tidak membutuhkan masa belajar. Lagipula dengan demikian, kita telah kehilangan kesempatan untuk belajar menerapkan apa yang kita ketahui dan kita punya kontrol untuk itu. Di mana muka kita akan ditaruh jika kita menggunakan sistem yang dibuat oleh orang lain sementara kita mengusulkan sistem lain kepada orang lain? Bukankah itu sama dengan omong doang?

– Memberikan pekerjaan kepada konsultan artinya kita membiarkan potensi sumber daya kita tidak termanfaatkan. Menjadi konsultan pada dasarnya bukan hanya memberi, tapi juga menerima. Kalau pekerjaan konsultan dikerjakan oleh pihak internal, pada dasarnya pengetahuan organisasi akan diserap (diterima) ulang oleh pihak internal sehingga terjadi akumulasi pengetahuan. tidak jarang perusahaan yang menyewa konsultan hanya menerima dokumen hitam di atas putih tanpa mendapatkan ruh dari konsep atau sistem yang dikembangkan. Dengan dikerjakan secara internal, kita memaksa setiap anggota organisasi/perusahaan untuk memahami diri sendiri. Bukankah mengenal diri merupakan kunci sukses dalam hidup?

– terakhir, jangan lupa dengan costnya yang cukup besar. kecuali organisasi mempunyai uang berlimpah, mengucurkan dana ke pihak lain mestinya tidak dilakukan dengan mudah. Apalagi jika organisasi menghadapi krisis keuangan atau tidak berlebih lah.

Pada akhirnya saya lebih cenderung mengatakan NO pada konsultan jika alasannya tidak ada waktu atau hanya ingin pinjam namanya. Gimana pengalaman anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: