I am nothing

Hari ini saya kedatangan tamu, bu yenni namanya, memperkenalkan content management system dari Pearson. Kita tahu bahwa pearson merupakan penerbit bukuteks utama di dunia selain McGrawHill, Thomson dan John Wiley. Kalau selama ini saya sudah cukup terbantu dengan instructor manual dari CD/DVD yang disertakan dalam buku teks, ternyata mereka punya beyond that matters. Kuper memang, tapi alhamdulillah saya jadi tahu sedikit sekarang.

Dengan antusiasme tinggi bu yenni menjelaskan apa yang menjadi support system dari Pearson di luar buku dan CD/DVD. Mahasiswa yang membeli beberapa buku teks dari Pearson akan dapat akses pada content management system mereka sehingga dapat belajar dengan lebih baik, menyenangkan dan dengan kecepatan yang sesuai. Feedback dari system juga tidak main-main karena mahasiswa diarahkan untuk melihat kembali konsep, chapter, materi yang masih dianggap bermasalah. Belum lagi dengan fitur tambahan seperti video dan animasi.

Untuk dosen juga tidak kalah menarik. Dosen dapat mengatur bahan quiz, tugas yang sudah disediakan dan dapat dijadwalkan akan muncul pada waktu-waktu tertentu. Dengan beban yang cukup besar, dosen (berkaca pada diri sendiri) kadang kurang waktu untuk memeriksa quiz, tugas dan memberikan feedback kepada mahasiswa dengan cepat. system yang dimiliki sanggup memberikan report tentang tingkat pemahaman mahasiswa berdasarkan test-test yang mereka jalani sendiri.

Tentu saja ada requirement untuk system ini. Minimal setiap mahasiswa harus membeli buku teks yang sebenarnya sudah lumayan murah (semoga daya beli masyarakat kita terus meningkat dari tahun ke tahun). Karena sistem ini online maka mau tidak mau infrastruktur internet menjadi mutlak. Semoga ini pun akan membaik dari hari ke hari.

Jadilah saya termenung setelah mendengarkan sharing bu yenni. Sebagai dosen, apa yang sudah saya hasilkan? buku belum, buku teks juga belum, apalagi sistem pendukung untuk memahami materi dalam buku teks dengan lebih baik. Wah I am really nothing. Tapi alhamdulillah, tidak ada kata terlambat. Justru ini menjadi pemacu bahwa orang lain sudah sampai di sana. Kapan saya ke sana mungkin butuh waktu yang panjang. Tapi seperti kata orang bijak, proses perbaikan akan makan waktu lama, tapi memutuskan untuk berubah hanya butuh beberapa detik saja. Gambare!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: