Start from the beginning

Kalau kemarin saya menulis tentang berpikir dan bertindak sesuai dengan fungsi alat yang kita gunakan, ini ada varian yang lain bahwa berpikir dan berbuat yang dimulai dari awal. Suatu ketika seorang atasan meminta anak buahnya membuat rekap beban karyawan di perusahaannya. Karena banyak departemen, maka sang anak buah tadi meneruskan permintaan atasan ke departemen-departemen dengan perintah yang sama. Singkat cerita, ketika dikumpulkan datanya sang bawahan harus bekerja keras untuk menyamakan format dan akhirnya merekap data untuk menghasilkan laporan yang diinginkan.

Banyak versi lain dari cerita di atas. Dalam menjalankan organisasi seringkali diperlukan KPI atau ukuran kinerja. Saat mengukur capaian kinerja saat ini orang biasanya terpaku pada apa yang diminta. Sebagai contoh ketika diminta KPI dari proses pembayaran jasa pihak ketiga, yang akan tampak hanya berapa lama waktu yang dibutuhkan. Kita akan mengambil data dari mulai proses dijalankan sampai proses selesai. Di lain waktu jika diperlukan data yang sama maka kita akan melakukan hal yang sama. Saat terjadi penyimpangan dari target analisis baru akan dilanjutkan lebih jauh. Jadi pekerjaan akan dilakukan secara bertahap dari akhir mundur sedikit ke depan, jika diperlukan pekerjaan berikutnya akan maju sedikit lagi ke depan, sampai akhirnya kita sampai pada proses terdepan.

Jelas praktek semacam ini akan memakan energi dan waktu yang luar biasa. Kita jarang berpikir sejenak sebelum bertindak. Sayangnya karena hal semacam ini sudah berlarut-larut, ketika  kesadaran muncul seolah terasa terlambat. Untuk memulainya lagi sudah begitu banyak data yang kita lewatkan sehingga merapikan yang sudah “berserakan” ini menjadi masalah baru. Tidak jarang hanya karena itu kesadaran tadi diabaikan. Situasi itu terus berulang sampai kita katakan kita sudah masuk pada lingkaran setan.

Untung kita memiliki pepatah “better late than never”. Dengan teknologi yang makin maju apapun bisa kita lakukan.Tinggal mau atau tidak untuk melakukannya. Me-restart komputer bukan hal aneh untuk mendapatkan default system. Kenapa kita tidak me-restart sistem kita? Mulai dari awal lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: