Adil dalam membayar hak orang lain

Diceritakan dalam sebuah hadits, ketika tiga orang terperangkap dalam gua mereka berdoa bermunajat kepada Allah swt untuk membantu mereka membuka penutup gua berupa batu yang besar. Satu dari orang itu adalah pengusaha yang salah seorang karyawannya pergi meninggalkan pekerjaan dengan meninggalkan hak yang belum diambil. Setelah sekian lama berselang, mantan karyawan tadi bertemu dengan mantan majikannya dulu. Saat itu sang majikan mengatakan ambillah gajimu yang dulu belum diambil berupa kambing, sapi, gembalaan yang kamu lihat itu. Dengan keikhlasan itu pintu gua pun bergeser.

Saya tidak menguasai hadits, tapi kalau boleh membaca makna hadits tersebut kira-kira hasilnya begini. Jelas sang majikan sudah berlaku adil dengan memberikan apa yang menjadi hak karyawannya. Tapi saya juga membaca seolah2 apa yang diberikan oleh majikan itu lebih dari apa yang ditinggalkan oleh karyawannya dulu. Gaji yang seharusnya sejumlah tertentu ternyata dikembangkan dan karena kontribusinya itu si karyawan mendapat lebih banyak daripada yang ditinggalkannya dulu. Subhanallah

Masih adakah kisah-kisah semacam ini hari gini? Tidak perlu berharap bahwa orang mendapat hak lebih dari yang seharusnya. Bahkan haknya pun kadang tidak tertunaikan. Kita lebih sering bagaimana menyelamatkan uang perusahaan agar tetap banyak dan lebih sering mengabaikan hal-hal kecil yang seharusnya diperhatikan.

Ada kisah seorang rekan yang bekerja sambilan di suatu perusahaan. Rekan ini saat dikontrak ditanya di mana alamat tinggalnya di kota itu. Sebenarnya rekan tadi domisilinya di kota yang berbeda dengan kota dia bekerja, tapi karena ditanya alamat di kota itu dia menyebutkan alamat saudaranya yang memang tinggal di kota itu. singkat cerita bulan demi bulan berlalu, sampai suatu ketika ada temannya yang menyadari bahwa rekan saya tadi tinggal di lain kota. “Kenapa kamu nggak bilang, kalau tinggal di lain kota kan kamu dapat hak SPJ sesuai dengan aturan perusahaan kita”, begitu kata temannya tadi. Alhamdulillah setelah diurus, rekan saya tadi dapat juga SPJ yang seharusnya dia terima. Tapi ya itu tadi hal itu berlaku sejak itu. Tidak ada permintaan maaf, apalagi SPJ yang tidak terbayarkan selama ini. Begitulah sistem kita. Kasus yang lain, ketika seorang karyawan ternyata dibayarkan lebih karena kesalahan administrasi, maka tidak segan-segan pihak perusahaan meminta kembali kelebihannya itu.

Tidak ada yang salah jika melihat aturan mainnya. Tapi ruhnya sungguh berbeda dengan kisah dalam hadits di muka. Kalau orang lain senang, kita ikut senang. Bukannya saya atau perusahaan senang, urusan orang lain ya biarlah. Ini benar-benar menjadi catatan buat saya sehingga tidak melakukan yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: