Benturan Kepentingan

Sabtu kemarin saya menghadiri walimah teman. Alhamdulillah, acaranya begitu megah (menurut pandangan saya), entah berapa ratus undangan yang hadir. Yang tidak kalah hebat tentunya makanan yang dihidangkan. Berbagai macam hidangan tersedia baik yang ringan, berat, buah dsb. point cerita saya bukan di sini, tapi saat mengambil es krim, antriannya cukup panjang. Begitu panjangnya, sampai-sampai ada yang ketika datang dan melihat antriannya, dia tergoda untuk mengambil jalan pintas. Ada yang merasa panitia sehingga tanpa malu memotong antrian. Ada lagi mengandalkan kenalannya di depan saya untuk ikut bergabung…

Alhamdulillah saya cukup sadar bahwa itu acara walimah, bukan mengantri di imigrasi mengurus pasport. Walaupun begitu, saya tetap merasa sedih ternyata ada yang merasa tidak perlu ngantri di saat seperti itu. Apalagi kalau memang kelakuannya di mana pun begitu. Barangkali sebetulnya mereka ingin antri, tapi karena panjang jadi berpikir-pikir untuk langsung saja memotong. Kepentingan diri begitu dominannya hingga mengalahkan aturan kesepakatan bersama.

Bayangkan jika hal semacam ini terus dibiasakan. Bukan tidak mungkin lama-lama tidak hanya sekedar antri di walimah, tapi di saat mengambil BLT (salut buat bupati wonosobo yang menolak BLT he he), antri mengurus pasport, di pintu gerbang tol, di jalan raya dsb. “Urusanku harus selesai dulu, peduli dengan yang lain!”  Berabe bukan kalau semua sudah berpikir seperti itu.

Hal-hal sepele semacam ini akan membuat kita terbiasa tidak peduli dengan orang lain. hak antri adalah hak biasa. Tapi mungkin saja belakangan kita mengambil sesuatu yang bukan milik kita. Kendaraan dinas, rumah dinas dan segala fasilitasnya bisa terlalu sayang untuk ditinggalkan. Pada saatnya itu akan kita lepaskan, tapi sayang rasanya kalau kita terbiasa dengan memenangkan keinginan nafsu.

Variasi yang lain soal benturan kepentingan. Selama kita memangku suatu jabatan, etikanya kita tidak menerima dari atau memberi kepada orang lain yang akan mempengaruhi keputusan kita. Tapi lagi-lagi karena kepentingan diri alias nafsu tadi tidak terkuasai, etika tadi akan jadi aturan di buku atau mengambang sebagai sebuah konvensi. Praktek akan jauh dari nilai-nilai luhur etika yang sudah diberlakukan.

Dalam bahasa agama, tidak ada dosa besar tanpa didahului dosa-dosa kecil. Semoga kita terhindar dari hal semacam itu. Na’udzubillahi min dzaalik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: