Belajar dengan case

Hari ini semester pendek sudah dimulai. Saya mendapat kelas SCM di mba seminggu 2 kali yang masing-masing mulai dari jam 8.00 sampai 14.00. Cukup melelahkan memang, apalagi hari ini sejak pagi kepala sudah terasa berat. Dengan kemampuan english pas-pasan, jadilah kelas hari ini terasa sangat berat. Tapi saya senang karena mahasiswanya sedikit😉 , jadi lebih mudah memanage kelasnya.

Dari 3 sesi hari ini, sesi terakhir saya gunakan seperti biasa untuk melihat dan memperkenal belajar case versi saya (sebetulnya versi Jim Erskine, tapi pasti tidak sebaik beliau makanya saya sebut versi saya). Saya kurang suka dengan model presentasi karena banyak kelemahannya daripada manfaatnya. Dan Jim merekomendasikan hal serupa, makanya saya langsung cocok. Apa yang saya dapati di sindikat grup hari ini menunjukkan bahwa metoda case ini belum benar-benar dipahami mahasiswa. Apa buktinya?

Pertama, ini bukan kasus kelas ini sebenarnya, tapi dari banyak kelas yang pernah saya ajar, mahasiswa tidak mempersiapkan diri dengan baik, alias belum membaca kasus. Andaikata kasusnya sudah dibaca, seringkali mahasiswa tidak menganalisisnya sehingga memiliki keputusan sendiri yang harus diambil berkenaan dengan kasus yang dihadapi.

Kedua, sindikasi tidak digunakan sebagaimana mestinya. Pada umumnya mereka berada di sindikat untuk menyatukan pendapat, atau mencari kesimpulan kelompok. Ini jelas bukan tujuan dari sindikasi. Di dalam sindikat, masing-masing orang harus berbagi tentang pemahamannya terhadap persoalan dan apa yang akan menjadi keputusannya. Jika masih ada waktu baru mereka dipersilakan untuk mengorek lebih jauh alasan yang mendasari keputusan rekannya, dan mengklarifikasi asumsi-asumsi yang digunakan. Harapannya dari sharing ini masing-masing peserta akan mendapat pengayaaan asumsi, perspektif, dan alternatif solusi.

Ketiga, ada yang masih berharap ada solusi atau pandangan pribadi dari fasilitator/dosen. Mungkin ini berbau ngeles, tapi fasilitator dianjurkan untuk tidak beropini karena besar kemungkinan akan dijadikan acuan sebagai jawaban terbaik atas suatu kasus. Ini bukti bahwa mereka masih belum memahami metoda belajar dengan kasus. Apapun keputusan yang diambil rekan kita, sebenarnya itu merefleksikan pengalamannya baik yang langsung dialami atau dibaca dari buku atau diceritakan orang lain. Diskusi dalam grup maupun di kelas adalah media untuk berbagi pengalaman-pengalaman itu.

ini semua saya sampaikan di sindikat hari pertama, ternyata mereka baru paham (semoga). Tentu saja pola ini membuat fasilitator jadi lebih repot karena harus lebih siap dari pesertanya. Tapi ya itulah tantangannya, kalau mau lebih baik, ya harus bekerja lebih.

Ada pengalaman lain untuk meningkatkan efektivitas belajar dengan case?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: