Knowledge Management: Sebuah Keniscayaan

Saya pernah mendengar dari seorang ustad bahwa kewajiban kita itu jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia. Ketika itu saya masih mengasosiasikan pesan itu hanya untuk persoalan umat saja. Belakangan saya merasakan betul bahwa waktu yang 24 jam terasa sangat kurang. Tentu saja perasaan ini yang salah, bukan waktu yang kurang tapi pekerjaannya yang banyak. Jadi betapa hidup ini begitu penting karena bagaimanapun persoalan dunia dan akhirat harus kita pecahkan sebelum catatan hidup kita ditutup oleh Sang Khalik.

Lantas apa kaitannya dengan KM? Saya memahami bahwa ruh KM adalah kemampuan learning, kemampuan untuk belajar dengan cepat. Jangan sampai knowledge yang sudah pernah ada harus digenerate lagi oleh orang lain karena knowledge itu tidak pernah eksplisit. Perusahaan sudah sadar tanpa KM investasi mereka pada pembentukan sumber daya yang handal akan sia-sia jika mereka yang sudah dibentuk begitu saja keluar dari perusahaan. Jadi di level perusahaan KM diperlukan untuk meng-capture dan mendistribusikan knowledge yang ada, di level individu semangat KM digunakan untuk berbagi dan jangan lupa untuk BELAJAR.

Kembali pada persoalan di atas dimana kewajiban kita jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia, maka kemauan dan kemampuan belajar menjadi hal yang sangat menentukan. Di jaman digital ini sesungguhnya sudah tersedia apa saja untuk memfasilitasi proses belajar. Materi untuk dipelajari berlimpah ruah, ruang untuk diskusi tidak terbatas, akses pada sumber knowedge mudah, media untuk sharing idea sudah secanggih blog sekarang ini. Semua yang kita perlukan sudah tersedia dengan revolusi perkembangan IT belakangan ini.

Apa dong yang membuat kita masih saja berjalan perlahan, atau bahkan hanya berjalan di tempat? (tidak berani saya mengatakan malah mundur, mematikan semangat katanya :( ). Sekilas menurut saya ya masalah mental. Banyak di antara kita yang masih belum terbiasa dengan email sebagai undangan, belum terbiasa diskusi secara offline atau virtual, belum terbiasa berkolaborasi lewat internet, dan banyak lagi hal-hal yang tidak dibiasakan. Yang lebih mengkhawatirkan, pembentukan ke arah budaya sharing dan kolaborasi yang secara tidak langsung artinya adalah ber-IT ria malah dianggap tabu. Bukannya malah digalakkan tapi terkadang dihambat.

Oleh karena itu selain dibutuhkan kepemimpinan yang mendukung penerapan KM secara utuh, secara paralel komunitas-komunitas (community of practices) yang ada harus terus menggunakan apa yang ada sebagai upaya memperkenalkan KM kepada khalayak terutama di dalam organisasi. Tanpa itu baik organisasi maupun kita sebagai individu tidak akan kemana-mana…

NB: saya baru menyadari ternyata Alquran dan hadits itu adalah tools KM dalam Islam yaitu buku pintar dimana semua knowledge sudah tersedia di sana sampai akhir jaman. Mau contoh gagal banyak qarun, firaun, kaum ‘ad, kaum nabi Nuh As dsb. Mau contoh sukses banyak: para nabi, sahabat nabi, termasuk sistem yang mereka jalankan. Subhaanallaah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: