Be On Time

Sudah beberapa semester saya tidak punya bimbingan dari MBA kecuali mahasiswa lama. Saya tidak pernah peduli kenapa begitu (yang jelas malah disyukuri) dan tidak ingin cari tahu kenapa begitu. Tapi kemarin saya dapet info sedikit mengenai hal ini setelah sidang salah seorang mahasiswa MBA. Menurut rekan yang jadi pembimbing, mahasiswa tadi takut sekali kalau diuji sama saya, wah. Saya coba cek lagi ke bagian administrasi di MBA barangkali pernah dengar gosip soal saya. Eh ternyata ada juga. Katanya Pak Mursyid galak. Hmmm

Sewaktu saya tanya kenapa bisa begitu, katanya gara-gara saya tidak membolehkan mahasiswa masuk ketika terlambat. Saya memang memberlakukan zero tolerance untuk kehadiran. Ketika waktu berpindah dari 00 menjadi 01 pintu akan saya kunci dari dalam. Tidak ada diskusi karena standar jamnya bukan standar jam saya, jam dinding atau jam mahasiswa, tapi standar internasional dari internet. Saya jadi heran masa karena itu saja jadi disebut galak. Ada-ada saja.

Sebetulnya saya tidak begitu on time sekali dengan jadwal. Tapi untuk sesuatu yang sudah disepakati ya harus. Dan saya yakin sebenarnya kita orang Indonesia bisa tepat waktu. Sewaktu di Jepang semua pelajar Indonesia rasanya bisa tepat waktu dengan senseinya, dengan siapa pun. Memang kadang kalau sudah ketemu orang Indonesia lagi sudah ada molornya🙂 .

Mengapa perlu on time? banyak hal yang menuntut kita on time. Bagi yang muslim, sahur itu ada batas waktunya. Kalau tidak memperhatikan waktu, salah-salah puasa kita batal. Waktu shalat juga ada batas mulainya, walau pelaksanaannya agak panjang (pantes dalam islam waktu menjadi sangat berharga). Tidak hanya urusan agama, kalau sudah tiba waktunya berangkat, maka kereta, pesawat akan berangkat walau kita hanya telat 1 menit. Pengiriman deadline beasiswa, report, proposal bisa terlambat hanya karena beberapa menit. Meeting atau janji bisnis dengan orang yang berbeda zona waktu bisa jadi kacau kalau tidak peduli dengan waktu. Oleh karena itu tepat waktu menjadi sangat krusial sehingga perlu dilatih kapan saja.

Sudah sering saya lihat di tempat shalat Jumat jamnya lebih cepat dari yang seharusnya. Dan banyak masjid tidak memperhatikan ketepatan jam dindingnya. Saya tidak tahu apakah karena perbedaan beberapa menit dapat ditolerir para malaikat atau karena memang mereka tidak peduli saja. Saya pikir ditetapkannya waktu shalat, dibuatnya time table waktu shalat oleh para ahli adalah agar tidak terjadi shalat sebelum waktunya. kalau kemudian kita tidak peduli dengan menitnya, buat apa susah-susah dibuat, pake saja perkiraan dari matahari atau patokan yang lain. Dalam quality management, ada batas spesifikasi bawah dan atas yang harus dipenuhi. Jika melenceng maka termasuk defect.

Jadi kenapa harus takut dengan tepat waktu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: