Mengubah Konsep Menjadi Aksi

Alhamdulillah hari ini saya sempat membaca walaupun sekilas standar pengelolaan pendidikan oleh satuan pendidikan dasar dan menengah. Saya pikir bahan ini cukup baik dari segi konsepsi karena memuat siklus manajemen mulai dari planning hingga controling. Saya membayangkan kalau saja konsep yang sudah bagus ini dapat benar-benar menjadi standar pengelolaan sekolah dasar dan menengah di Indonesia, semestinya masyarakat manapun berada akan mendapatkan layanan yang standar. Bahwa ada sekolah yang lebih maju nggak masalah selama standarnya (batas bawahnya) sama. Tapi kenapa belum terjadi?

Ada beberapa hal yang mungkin menjadi sebab kenapa belum terwujud standar pengelolaan sekolah ini:

1. Standar ini belum disosialisasikan dengan baik. Mungkin hanya segelintir orang saja yang mengetahui adanya standar ini. Lebih jauh dari itu motivasi di balik pengembangan standar ini juga perlu disadari sehingga standar ini bukan hanya sekedar persyaratan administrasi tapi juga punya ruh. Ada yang mempunyai data tentang sosialisasi standar ini?

2. Standar ini belum terinci dengan baik sehingga masih sulit diimplementasikan. Siapa melakukan apa, timeline dari setiap proses, keterkaitan satu proses dengan proses lainnya, pada level mana sekolah dapat melakukan kustomisasi demi keunikan sekolahnya  merupakan contoh-contoh detail yang harus dijabarkan lebih lanjut dari konsep generiknya. Oleh karena itu detail dan rencana implementasi standar ini juga perlu disusun di level sekolah maupun level nasional agar berapa pun lamanya proses standarisasi tahapannya jelas.

3.  Yang paling penting sebenarnya adalah kepemimpinan di tingkat sekolah dan jenjang-jenjang berikutnya terutama para pengambil keputusan. Adakah kemauan dan komitmen untuk menjadikan standar ini terealisasi di Indonesia. Mengapa saya tulis di belakang? biasanya elemen ini adalah elemen utama dan pertama untuk mensukseskan suatu program. Seringkali saya dapati pada organisasi yang belum punya sistem, maka pemimpinnyalah yang menjadi pewarna. Kalau bagus orangnya, baguslah organisasinya. Sebaliknya kalau jelek pemimpinnya, maka jelek pulalah organisasinya. Oleh karena itu sistem harus ada bersamaan dengan perlunya seorang pemimpin yang baik. Kalau sistem baik, perilaku pemimpin tidak akan mudah mewarnai sistem.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: