Benarkah kita bersih?

Suatu ketika seorang guru besar menyampaikan pandangannya begini kira2: beliau senang dengan posisi Umar Bakri, karena bisa fleksibel dalam pengaturan waktu dan aktivitas. “Meskipun dari segi finansial tidak terlalu wah, asal ikhlas dan tulus, rezeki tak lari kemana”. Semoga saja ikhlas dan tulus tadi memang tidak terkotori dengan semangat fleksibel dalam waktu dan aktivitas…

Cukup sering saya dengar orang mencibir kelakuan para PNS yang tertangkap basah saat jam kerja ada di pusat perbelanjaan. Kadang juga kita tertawa atau tersenyum menertawakan kalau disebut bagaimana kelakukan PNS di kantor kelurahan atau kantor pemerintahan yang keluyuran sana sini untuk mencari tambahan. Sering kita protes ketika ada guru dari sekolah anak kita atau bahkan yang tidak kita kenal melakukan hal-hal untuk menambah penghasilannya. Saya jadi ingat kelakuan sendiri ketika melakukan itu semua. Semua atas nama fleksibilitas atau alasan gaji PNS yang tidak akan cukup untuk membiayai kebutuhan hidup.

 Tampaknya bagi banyak orang aktivitas dosen yang “keluyuran” sana sini tidak dapat disamakan dengan kasus-kasus PNS di atas. Dengan alasan riset atau pengabdian masyarakat dosen dapat melakukan proyek jutaan bahkan milyaran rupiah. Memang demikianlah tuntutan dari dosen yang harus melakukan tridharma perguruan tinggi. Tapi tidak adakah sistem yang mengatur ini semua? Ketika sang guru besar tadi mengatakan menikmati fleksibilitasnya, mudah-mudahan ada pagar-pagar yang membatasinya. Kalau tidak saya ragu apakah kita dapat membedakan aktivitas “riset dan pengabdian masyarakat” dengan keluyuran PNS lainnya.

Mudah saja indikasinya, jika jumlah proyek yang banyak dan nilai yang begitu besar tidak membesarkan institusi dan malah membesarkan individu, artinya sistem sudah tidak berjalan. Ya kalau ada pun, maka sistem itu sudah sistem yang korup. JIka kita para dosen tidak ingin dicap korup, maka kita harus melakukan sesuatu untuk mengubah sistem ini, sebuah sistem yang menghargai dosen dengan sangat baik sehingga mereka dapat melakukan tridharma dengan baik pula. Saya ingat dulu ada dosen salah satu PT di Jepang yang mengundurkan diri gara2 malu saat terbukti saat pengadaan barang tidak melakukannya dengan tender. Walau vendornya sudah qualified, tapi prosesnya salah maka beliau dinyatakan “bersalah”. Sensei saya pernah cerita proyek yang banyak beliau dapat, semuanya masuk ke universitas. Beliau hanya dapat gaji bulanannya saja. Samakah kondisi kita?

 Mari kita pikir bersama lagi, tidak bisakah kita menciptakan sistem yang bersih, yang benar-benar membuat siapapun nyaman berada di dalamnya. Dan yang lebih penting lagi, aman juga untuk kehidupan di akhirat nanti. Astaghfirullahal’azhiim

2 Responses to Benarkah kita bersih?

  1. namakuananda says:

    asyik….asyik juga tulisannya. Padahal PNS insentifnya sekarang udah ngga’ kepalang tanggung lho. Anak negara. Anak emas. Gampang aja nyebut PNS yang kaya’ gituan mas. Itu semua disebut OKNUM.🙂

  2. Mursyid Hasanbasri says:

    Ya memang paling mudah kita sebut Oknum ya… tapi jadinya terbalik bahwa oknum jauh lebih banyak dari yang tidak. Saya tidak tahu apakah arti oknum jadi berpindah ke yang sedikit?😦
    tq mas nanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: